Cerpen Lailatul Q (Kabar Madura, 25 Januari 2019)

November yang Lalu ilustrasi Kabar Maduraw
November yang Lalu ilustrasi Kabar Madura 

19.00

Aku duduk di kursi belakang.

Yang lain telah terlelap pulas sekalipun tak di ranjang. Barangkali karena lelah, tak kuhiraukan handphone yang tetiba terang. Kulirik, satu pesan muncul dari makhluk yang sebenarnya telah lama hilang.

“Berhati-hatilah, usahakan kembali ke rumah dalam keadaan gembira, Sayang” katanya.

“Bagaimana pula bergembira, sedang kau sumber segala derita.”

“Engkau bisa saja menganggap bahwa aku sumber derita; tapi ketahuilah bahwa hati ini tetap saja terpelihara dengan bijak untukmu, Perempuan.”

“Perempuan nun jauh di sana. Itu bukan aku, Rama.”

“Pokoknya gitu lah, engkau menafsirkan segala bentuk perempuan itu siapa saja. Tak masalah. Yang penting bagiku, itu adalah dirimu.”

“Kalau itu aku, tentu tak ada cemburu. Tapi aku ragu. Katamu palsu!”

 

19.45

Di sampingku Layla tertidur lelap sekali. Aku beringsut duduk tegak hati-hati. Pelan sekalipun sebenarnya aku mulai emosi. Makhluk itu masih mengirimiku pesan lagi.

“Aku memang mengharapkan engkau ragu seragu-ragu mungkin, karena bagiku untuk menjadi yakin itu adalah harus melalui keraguraguan.”

“Kala-kala waktu-waktu ragu-ragu rindu-rindu, perempuan itu tetap bukan aku.”

“Amat sulit meyakinkan bahwa itu memang benar-benar dirimu sebab engkau tak kunjung menemuiku sejauh ini.”

“Hidup macam apa itu? Aku menemuimu? Sementara kau pergi sejauh-jauhnya dan berjanji tak akan kembali. Aku tahu kita memang tidak untuk bersatu. Pergilah sejauh kau suka dan lupakan kita.”

Advertisements