Cerpen Erwin Setia (Media Indonesia, 20 Januari 2019)

Toko Bunga Bahagia ilustrasi Bayu Wicaksono - Media Indonesiaw.jpg
Toko Bunga Bahagia ilustrasi Bayu Wicaksono/Media Indonesia

SEORANG perempuan muda, dari arah kiri, melihatmu dengan tatapan iba. Kau benci tatapan semacam itu. Mungkin benar kau sedang bersusah hati, tapi kau tak menginginkan tatapan yang membuatmu merasa seperti gembel di jalanan, apalagi dari seorang perempuan, yang tak kau kenal.

Kau menggaruk ujung besi kursi, agak keras sehingga menimbulkan decit yang mengilukan. Itu kebiasaanmu jika merasa gelisah. Menggaruk-garuk apa pun yang berada di dekatmu. Cara orang menahan geram beraneka ragam, ada yang menggerematakkan gigi dengan mata menyala dan rahang mengeras bak peran antagonis di sinetron, ada yang menonjoki tembok hingga buku jarinya terluka, ada yang menangis di balik selimut, dan banyak lagi kau bisa menelitinya sendiri jika mau. Tapi, kau memilih cara menggaruk. Dan sepertinya itu cara yang tepat sebab tak menimbulkan mudarat bagi sesiapa.

Burung-burung berwarna krem melesat dari gerumbul pohon, melintasi langit. Burung-burung yang tak kau kenal namanya dan memang tak ingin kau kenal namanya. Kau berpikir, dirimu kini sebebas burung-burung itu. Tapi, apa itu kebebasan?

Sebelum pertanyaan yang menerbitkan lampu di atas kepalamu terjawab, perempuan itu, perempuan yang tadi menatapmu dengan iba, mendekat ke kursimu. Ia, sebelumnya berdiri seperti menunggu sesuatu, lalu menempatkan bokongnya yang berbalut rok hitam berukir garis-garis ungu di atas kursi di sampingmu. Kau memindahkan tas kerjamu ke pangkuan, meluaskan tempat untuk perempuan di sebelahmu. Harum lavender menyemerbak.

Mulanya perempuan itu tak mengucapkan apa-apa. Hanya melakukan gerakan-gerakan ringan dengan pandangan linglung. Ia tak lagi menatapmu, tidak dengan tatapan model apa pun. Beberapa saat lamanya ia tetap begitu, tetap bungkam dan kau mulai menduga ia bisu. Saat keyakinanmu akan kebisuannya semakin menguat, ia menoleh, menatapmu dengan tatapan jauh lebih bersahabat ketimbang sebelumnya.

Kini kau bisa melihat wajahnya secara jelas, anak-anak rambut di dahi, rahang, bibir, bentuk hidung, dan lubang hidung ya, pada bagian itu kau mengingat sesuatu. Wajah perempuan itu mengingatkanmu pada teman SMP-mu. Temanmu itu perempuan yang memiliki kebiasaan ganjil: suka mengorek-ngorek hidung ketika mengobrol.

Advertisements