Cerpen Dadang Ari Murtono (Padang Ekspres, 20 Januari 2019)

Sebelum Penguburan ilustrasi Orta - Padang Ekspresw.jpg
Sebelum Penguburan ilustrasi Orta/Padang Ekspres 

Ali Samiri mengira dirinya bermimpi. Ia ringan dan melayang empat sentimeter dari permukaan lantai tanpa bayangan. Sesekali, dengan gesit, ia menyelinap di kerumunan orang tanpa ada satupun dari mereka yang menyadarinya. Sesekali pula, ia menepuk bahu mereka. Namun orang-orang itu bergeming. Ia bahkan mencoba menjitak kepala mereka.

Dan mereka tetap bergeming, seolah jitakan yang menurut Ali Samiri cukup keras itu tak terasa sama sekali. Kamar berukuran empat kali empat meter itu terasa sesak menampung lebih dari enam orang, sebuah ranjang besar, sebuah lemari, sebuah meja dan sebuah kursi. Di luar kamar, kerumunan yang berjubel berlipat-lipat dari yang berada dalam kamar, memenuhi mulai dari ruang tamu hingga dapur. Dan kalau yang berada di halaman juga dihitung, maka siapapun akan tahu bahwa sebagian besar—untuk tidak menyebut semua—penduduk kampung tumplek blek di sana. “Apa yang kalian lakukan di sini, orang-orang tolol?” jerit Ali Samiri tak tahan. Dan tak ada yang menoleh ke arahnya, apalagi menjawab pertanyaannya. Mereka, pada kenyataannya, seperti tak mendengar apa yang dikatakan Ali Samiri.

Itu adalah suatu Jumat Legi yang cerah. Matahari terbit beberapa saat setelah empat manula pulang dari masjid menunaikan salat subuh. Seekor kelelawar yang kesiangan dan panik menabrak pohon randu di halaman rumah Ali Samiri, oleng beberapa detik, lalu melesat lebih tinggi. Tiga kelopak melati gugur tak kuat menanggung embun, satu setengah meter dari pohon randu. Istri Ali Samiri bangun untuk menyiapkan sarapan, masih mengenakan daster kembang-kembang pudar yang berlubang di ketiak kirinya. Dan satu jam kemudian, setelah nasi goreng dan kopi untuk sarapan siap, perempuan dengan payudara kiri hilang akibat pertarungan sengit antara dokter dan kanker itu berteriak panik. Ia, awalnya, berteriak dari dapur memberitahu Ali Samiri untuk segera sarapan karena hari semakin tinggi. Empat kali ia berteriak dan tak ada sahutan. Biasanya, cukup satu atau dua teriakan dan Ali Samiri, dengan jangkah gontai dan muka kuyu, akan muncul di ambang dapur. Perempuan itu, dengan langkah dibanting karena sebal, berjalan menuju kamar. Ia kembali berteriak. Hanya keheningan yang memantul-mantul yang menjawab teriakannya. Ia lalu masuk dan menarik selimut Ali Samiri. Dan di sanalah ia melihat wajah pucat Ali Samiri dengan mata terpejam dan mulut terbuka.