Cerpen Gandi Sugandi (Pikiran Rakyat, 20 Januari 2019)

Mata yang Kau Buang ilustrasi Rifki Syarani Fachry - Pikirian Rakyatw.jpg
Mata yang Kau Buang ilustrasi Rifky Syarani Fachry/Pikirian Rakyat 

KUE tart tumpang tiga memang menggiurkan, memancing liur. Dengan pembauran warna pekat dan cerah. Hitam. Cokelat Putih. Merah. Saat disesap lidah, manis lezat. Dan tawaran-tawaran berulang tak dapat ditolak.

KEGEMBIRAAN perayaan ulang tahun anak yang kesembilan tadi sore ternyata berbuah penderitaan di malam hari. Pukul 23.20 terbangun. Bukan karena ingin pipis atau haus, bukan pula mendengar suara gaduh.. Tapi alat pengunyahku senat-senut, owh, linu, sakit. Tadi sore itu lupa, bahwa gigi geraham pertama telah berlubang. Di sampingku, istri terlelap, tidur bahagia telah melaksanakan hajat ulang tahun anaknya. Biarlah usah dibangunkan. Akupun mencoba lagi tidur.

Ah susah. Rasa sakit tetap tak reda. Mengganggu. Aku beranjak dari ranjang. Hendak abaikan rasa sakit dengan menonton TV di ruang makan.

Setiap langkah adalah berat. Melewati ruang tamu, balon-balon yang bergantung di dinding berbagai ukuran seakan serempak bertanya. “Kenapa bangun? Apa kabar?” Ah sialan! Saat tiba di meja makan, owh, sisa kue tart itu teronggok! Bekas potongan pisau tajam jelas terlihat licin di pinggir belahan tart. Menambah rasa ngilu gigi melihatnya. Istri lupa menaruh kembali di lemari pendingin. Hampir saja tanganku refleks mengempaskan kue tart itu agar berhamburan ke lantai, kalau saja tidak ingat siapa tadi yang berulang tahun. Dengan berbesar hati, aku simpan ke tempatnya penyebab musibah itu. Lalu aku ke meja makan. TV dinyalakan.

Suara pembawa acara di TV membuat tak nyaman. Aku matikan. Duduk tepekur. Tangan kiri menempel di pipi kiri. Sesekali mengusap-usap. Memohon agar gigi ini tak marah. Ya aku tahu, tak ada sakit yang sembuh tanpa obat. Berjuta harap menuju kotak P3K. Owh. Tak ada obat penahan sakit gigi. Hanya betadin dan kain kassa.

Lunglai.

Balik lagi ke kursi makan. Tertunduk. Dengan posisi seperti tadi, tangan kiri menempel erat di tangan kiri. Mencoba bertahan menahan sakit. Owh. Tidak. Pekerjaan kantor yang belum selesai berkelebat. Laporan bulan Januari harus ada perbaikan, belum cocok angkanya. Bahan makalah untuk minggu depan belum siap referensi-referensinya. Owh. Owh. Menambah semakin nyelekit itu sakit.

Advertisements