Cerpen Risda Nur Widia (Haluan, 20 Januari 2019)

Renjana ilustrasi Istimewaw.jpg
Renjana ilustrasi Istimewa

“Bila ada seorang yang terus memikirkanmu, maka di sanalah tempatmu untuk pulang?”

Itu adalah kata Ibu beberapa tahun lalu. Sebelum aku pergi meninggalkan rumah. Memang, setelah lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan sebagai koresponden salah satu perusahaan media di Berlin, aku pergi meninggalkan rumah dan Ibu. Aku hidup sebagai pengelana di negeri orang. Hari-hariku tidak lagi dipadati dengan percakapan hangat dengan Ibu, tetapi diganti laporan kerja, rutinitas berangkat kantor, dan kesepian-kesepian yang aku lalui seorang diri di Eropa. Apalagi selama meninggalkan rumah, dua tahun—dan sepanjang waktu itu juga belum pernah pulang—aku merasa ada yang hilang dalam hidup. Aku merasa ada yang membuatku semakin asing di tengah perantauan.

Lalu karena kalimat yang tiba-tiba terngiang itu, aku mendadak rindu suasana rumah. Begitu juga hingga siang ini. Setelah kalimat itu berhasil menghadirkan kegelisahan yang menohok nyaris selama dua minggu, aku memutuskan mengambil libur panjang, dan pulang. Demikianlah. Aku berangkat dengan pesawat paling pagi dari Bandara Schonefeld di Berlin. Perjalanan udara yang menghabiskan waktu berjam-jam tidak membutku lelah. Rindu pada kampung halaman dan Ibu bagai menghadirkan semangat lain pada diriku. Sesampai di Soekarno-Hatta, tubuhku bahkan masih sama segarnya seperti saat bangun pagi. Padahal, perjalanan dari Berlin menuju Jakarta, adalah perjalanan panjang dan semsetinya menghabiskan tenaga.

Dari bandara, aku lekas menggunakan taksi. Aku meminta supir untuk mengantarku ke kafe terdekat. Sopir itu lantas membawaku ke sebuah kafe yang lenggang di satu sisi Jakarta. Aku duduk seorang diri di sana, kemudian memesan minuman seraya menerawang ke luar jendela. Aku seolah sedang mencocokkan kembali apa yang ada di benakku dahulu mengenai kota ini. Dapat dikatakan, di tepi meja itu, aku sedang merakit ulang biografi ingatan pada kota di hadapanku. Mataku terus menjelajah dari satu objek ke objek lainnya. Ingatanku bekerja sangat keras. Tetapi, pemandangan dua tahun lalu tentang kota ini terasa sangat berbeda.

“Waktu terus melumat kehidupan untuk senantiasa berubah,” pekikku seorang diri meski dalam hati.

Advertisements