Cerpen Umi Salamah (Tribun Jabar, 20 Januari 2019)

Penjual Nyawa ilustrasi Wahyudi Utomo - Tribun Jabarw
Penjual Nyawa ilustrasi Wahyudi Utomo/Tribun Jabar 

JlKA suatu hari dapat bertemu dengan Tuhan, saya ingin bertanya satu hal kepada-Nya. Pertanyaan yang setiap malam selalu saya gumamkan sebelum beranjak tidur. Pertanyaan yang begitu merisaukan. Apakah saya dapat mengganti takdir?

Pertanyaan itu berkaitan dengan hidup saya. Tentu saja menyangkut hidup saya karena ini yang saya jalani. Doa saya sebelum memejamkan mata di malam hari adalah ingin menjadi orang kaya dan tampan. Anehkah permintaan saya? Rasanya tidak juga. Saya yakin, orang di dunia ini yang bernasib sama seperti saya pasti memiliki permintaan yang sama. Itu jika mereka percaya kepada Tuhan.

Saya adalah anak raja. Itu yang dikatakan oleh almarhum ayah saya. Tampaknya ucapan ayah saya hanya manis di lidah. Sekadar pujian untuk mendiamkan anak kecil yang tengah menangis. Tapi memang saya menangis. Saya selalu menangis dalam diam. Meratapi nasib yang entah kenapa jelek.

Ayah saya memang lelaki yang luar biasa. Hebatnya, dia yang sepanjang usia saya yang menginjak tiga puluh empat tahun memenangkan hati saya. Bagi saya, ucapan beliau adalah mutlak. Benar adanya. Sekaligus guru saya selama ini.

Jika tidak ada ayah di dunia ini, saya tidak akan lahir. Air maninya yang membentuk saya menjadi manusia seutuhnya. Manusia yang sempurna anggota tubuh. Ayah begitu baik sepanjang hidup saya. Bahkan dia mewariskan takhta kebanggaannya.

Sudah saya katakan, saya memang anak raja. Raja yang pekerjaannya sedikit berbeda. Jika raja mengurus sebuah negara, maka ayah saya mengurus jalanan. Pekerjaan ayah saya seorang tukang sapu jalanan. Dengan jubah kebesarannya yang berwarna oranye menyala. Jubah yang, walaupun berada di tengah keramaian kendaraan, tetap akan mencolok di mata.

Mewarisi pekerjaan ayah awalnya sebuah kebanggaan bagi saya. Selama ini, ayah saya sangat bangga dengan pekerjaannya. Beliau berkata, tukang sapu jalanan sama derajatnya dengan seorang raja atau presiden. Dan saya ketawa saat mendengarnya.

“Tertawalah sepuas hatimu, Nak. Tapi suatu hari nanti, kau akan merasakan kebanggaan sejati dari pekerjaan ini,” ujar ayah.

Advertisements