Cerpen Eti Nur Halimah (Republika, 20 Januari 2019)

Pelangi di Kota Changhwa ilustrasi Rendra Purnama - Republikaw.jpg

Pelangi di Kota Changhwa ilustrasi Rendra Purnama/Republika 

Petang mulai merembang, matahari meredup kembali ke peraduan. Dengan terge-sagesa Amira menuju mesin penggesek kartu perjalanan. Langkahnya kian dipercepat, karena tak ingin tertinggal kereta jurusan Changhwa, tempatnya bekerja.

“Amira, tunggu! Kamu gak ikutan makan bersama dengan teman-teman?” tanya Lily, sembari menjejeri Amira.

“Aku harus cepat-cepat pulang, Li. Takut kita terlambat sampai rumah,” jawab Amira dengan tetap berjalan cepat.

“OK deh. Kalau begitu, hati-hati ya!” ucap Lily melambai tangan.

Sepanjang perjalanan di dalam kereta, Amira memejamkan mata. Beristirahat sejenak. Karena ia tahu, setumpuk pekerjaan telah menantinya di rumah. Meskipun, majikan memotong gajinya saat berlibur, tetapi ia harus bekerja sebelum kepalanya merebah di atas bantal.

Perlahan Amira menekan bel rumah nomor 69, rumah besar dan tingkat bak villa daerah pegunungan. Tak berapa lama, muncullah seorang wanita paruh baya dengan rambut ikal diikat kuda. Tampak menyembul sederet uban putih di bagian atasnya. Dialah Nyonya Fang, majikan Amira. Wanita tegas yang tak segan mengomeli dia seharian jika melakukan kesalahan dalam bekerja.

“Kamu tahu ini jam berapa? Kenapa pulang telat?” pertanyaan itu meluncur dari mulut Nyonya Fang.

“Maaf, Nyonya, tadi saya tertinggal kereta sehingga harus menanti kereta berikutnya,” jawab Amira terbata.

“Lihat itu! Nanai belum mandi, bekas makan malam juga belum dibereskan. Buruan sana dikerjakan!” ucap Nyonya Fang, sambil jemarinya menunjuk ke arah yang berantakan.

Tanpa panjang lebar, Amira bergegas menuju dapur. Gadis beramput sebahu dengan perawakan tinggi tersebut tertegun, melihat suasana yang berantakan. Piring-piring menumpuk di tempat cucian, botol beer dan gelas berserakan di atas meja. Di tambah aroma rokok yang menyengat, hingga membuat perutnya mual.

Advertisements