Cerpen Zainul Muttaqin (Solo Pos, 20 Januari 2019)

Panggilann Izrail ilustrasi Solo Posw.jpg
Panggilann Izrail ilustrasi Solo Pos 

Maksan melipat uang itu dengan girang. Setengah jengkel istrinya bertanya, “Apa belum kapok? Tak ada untung main judi. Justru malah menambah dosa.” Wajah Maksan berubah sangar. Kerut-kerut di dahinya membentuk garis terombang-ambing. Lak-laki paruh baya itu meludah di depan muka Simar, istrinya. Dia berkata lantang sampai sepenjuru gang mendengarnya, kasar ucapannya membentur dinding rumah.

“Rupanya, kau mulai berani sama aku!” Maksan berteriak. Bersamaan dengan kalimat yang selesai ia ucap, ia pukulkan tangan kanannya ke meja makan. Bara api dalam mulut tungku masih menyisakan hawa panas.

“Tugas istri mengingatkan suami,” lirih suara Simar ditenggelamkan hujan yang mengucur deras di luar jendela. Tapi, keringat tampak membasuh tubuh suaminya yang sejak tadi meluapkan emosi. Napasnya megap-megap tak mampu mengimbangi amarah di dalam dadanya.

“Jangan sok tahu kau! Tugas istri cuma menuruti apa kata suami. Paham!” Simar menjatuhkan pandangan ke lantai. Ia sungguh tak berani menatap wajah Maksan ketika laki-laki berkulit hitam legam itu menumpahkan seluruh amarah dari dalam dada ringkihnya.

“Aku ingin ke surga bersama-sama. Ingat mati Bang,” perkataan Simar ini membuat Maksan kian meradang. Tangan Maksan mendarat di pipi kanan istrinya. Tangan kekar yang dulu membopong Simar ke atas ranjang di malam pertama.

Tangis Simar pecah, air matanya mengalir deras, meleleh di kedua pipi tirusnya. Perempuan cantik itu memegangi pipinya yang mengeluarkan darah, sebab Maksan menggamparnya sangat keras, begitu bertenaga ketika laki-laki itu mendaratkan tangannya. Maksan mengempaskan pantatnya pada kursi, dengan cat warna biru yang mulai mengelupas warnanya dimakan usia. Ia berusaha mengatur laju napasnya.

“Umurku masih panjang. Nanti kalau sudah hampir tiba kematianku. Sepekan sebelumnya, aku akan taubat. Gampang kan?” Maksan berujar di antara derai tangis istrinya yang masih terisak. Simar menggelengkan kepala. Ditatapnya wajah suaminya yang mengulas senyum, disusul derai tawa terbahak-bahak sampai badannya berguncang-guncang.

Advertisements