Cerpen Nazar Shah Alam (Serambi Indonesia, 20 Januari 2019)

Mesyuarat Jin Paya ilustrasi Tauris Mustafa - Serambi Indonesiaw.jpg
Mesyuarat Jin Paya ilustrasi Tauris Mustafa/Serambi Indonesia 

MEREKA tidak pernah benar-benar hilang. Bila waktu meminta, keadaan memaksa, mereka akan tiba. Bisa berupa wujud menakut-nakuti sekilas, bisa pula berupa wabah yang tak terbaca, bisa pula dengan sentilan-sentilan langsung ke tubuh lawannya. Mereka tidak pernah benar-benar diam. Sejak kekuasaan insani menyerang, mereka pindah menjadi pembunuh bayaran. Melakukan tugas dengan baik di kampung-kampung yang dipenuhi kedengkian.

Kendati kepercayaan kepada mereka makin aus, jumlah pasukan mereka semakin menyusut, namun itu tidak membuat semangat Para Jin Paya ciut. Setahun sekali mereka tetap mengadakan pertemuan khusus. Itu ditandai dengan munculnya sas-sus kecil semacam banyak orang-orang kerasukan dan atau muncul penyakit-penyakit ganjil di satu tempat yang tak tenyana. Mereka memang sudah sangat terlatih melakukan kerja tak disangka akal manusia.

Selain itu, acap lima tahun sekali mereka mengadakan mesyuarat besar-besaran dalam rangka pemilihan pemimpin baru bagi Para Jin Paya. Di sana juga akan ada kenduri peralihan tahta. Namun percayalah, pada kenyataannya, agenda pilih pemimpin baru tersebut tidak pernah benar-benar ada. Di mesyuarat, gelar penghulu tetap diberikan kepada petahana: seperti biasa. Lagi pula tidak ada keuntungan mengajukan diri menjadi calon penghulu sebab nyata-nyata akan kalah di pemilihan.

“Bahkan untuk mengalahkan lebat garang kumisnya pun kita tak mampu,” ujar salah satu jin muda di kawanan itu. Teman-temannya tertawa.

“Lagipula untuk apa? Duduk di sana membuat kita tak ubah seperti seorang anak-anak meujahek. Dihibur dengan panggilan ‘o raja’, diberi jajan dan mainan biar lalai dan tidak mengganggu pekerjan ibu. Sementara apa-apa yang terjadi di sekelilingmu, mereka alpa membawamu serta ke dalamnya. Sesekali dibawa, yaa begitulah. Semu sekali,” sahut Jin Kuala sepele. Barangkali ia sakit hati karena sudah berulang kali mencalonkan diri selalu ditolak oleh para jin utusan paya-paya lain.

“Ini akan membahas apa? Pemilihan pemimpin kan sudah? Mengapa harus ada mesyuarat lagi tiba-tiba?” tanya Hantu Lapa yang selama ini ditugaskan untuk menyamun orang loba.

Advertisements