Cerpen Riyan Prasetio (Singgalang, 20 Januari 2019)

Lelaki yang Nekat Memesan Makanan ilustrasi Singgalangw.jpg
Lelaki yang Nekat Memesan Makanan ilustrasi Singgalang

FADIL merogoh saku celananya. Lembar demi lembar uang yang tampak kumal berhasil dikeluarkan. Dua lembar uang lima ribuan ditambah tiga lembar uang dua ribuan serta satu keping koin seribuan. Ia menghela napas kasar. Pandangannya tertuju pada sebuah warung makan yang ada di seberang jalan.

Beberapa pembeli tampak keluar masuk. Ada yang memesan makanan dan menikmati langsung di warung tersebut. Ada juga yang memilih membungkus makanan yang mereka pesan untuk dibawa pulang. Mungkin mereka lebih suka menikmati makan bersama dengan keluarga di rumah. Untuk kedua kalinya Fadil menghela napas dalam-dalam kemudian memasukkan kembali uangnya ke dalam saku celana.

Ia paham betul kalau uangnya tidak bakalan cukup untuk membeli seporsi makan siang lengkap dengan es teh yang bisa menyegarkan tenggorokannya yang terasa kering. Panas matahari begitu menyengat siang ini. Membuat tubuhnya basah oleh butiran keringat yang keluar dari penjuru tubuhnya. Ia tak peduli meski aroma tubuh telah menguarkan bau tak sedap. Belum lagi aroma di sekitar ketiaknya yang sudah basah. Jikalau ada kecoa yang berlalu di sana, mungkin akan pingsan terlebih dahulu karena mencium bau busuk yang menyengat.

Lama sekali Fadil menimbang. Mengukur keberuntungannya siang ini untuk makan enak. Kiriman dari kampung yang biasanya rutin setiap bulan agak tersendat kayaknya. Buktinya sampai uang yang dikirim bulan lalu hanya tersisa empat belas ribu rupiah belum ada tanda-tanda akan mendapat kiriman dari kampung. Biasanya dua minggu sebelum mengirimkan uang, orang tuanya akan menelepon, memberi tahu agar uangnya segera diambil ke ATM terdekat. Dan saat itulah wajahnya akan berseri. Tak sabaran untuk segera mengambil uang yang dikirim oleh orang tuanya dari kampung.

Namun, sudah seminggu yang lalu tanggal yang seharusnya kedua orang tuanya menelepon, memberi kabar hendak mengirimkan uang terlewat sudah. Ia kecewa, mengingat uangnya semakin menipis sedangkan biaya hidup di kota semakin terasa mahal saja setiap harinya. Bahkan sudah beberapa hari belakangan ia berhenti membakar uang demi menghemat pengeluaran. Padahal mulutnya sudah tidak sabar ingin menjepit dan menghisap benda yang mengeluarkan asap itu. Terpaksa ditahannya keinginan merokok.

Advertisements