Cerpen E. Widiantoro (Pontianak Post, 20 Januari 2019)

Datuk Muara Sungai ilustrasi Pontianak Postw.jpg
Datuk Muara Sungai ilustrasi Pontianak Post 

Nurma dan Amrullah segera menikah. Begitulah kabar yang tersiar di Tanjung Nipah. Rencana pernikahan keduanya, Jumat lusa. Tentulah segala persiapan telah dilakukan pihak keluarga masing-masing. Bapak Nurma, Ngah Saad selaku tuan rumah menjadi orang paling sibuk mempersiapkan gawe besar keluarga. Ia harus memastikan sendiri semua rencana berjalan lancar tanpa hambatan berarti termasuk hambatan dari alam. Ia lalu ingat datuk di muara sungai Tanjung Nipah, letaknya di utara. Hanya datuk itu yang bisa menahan gangguan alam atau hal apapun jika kita sedang begawe. Begitu kata hatinya.

Diam-diam, Ngah Saad bergegas turun dari rumah hendak menemui datuk di muara sungai. Dibawanya dalam kantong kresek hitam sebelah tempurung kelapa yang masih bersabut, sebutir telur ayam mentah, sebatang lilin putih, sekapur sirih dan bereteh (bulir-bulir padi yang disangrai/digoreng tanpa minyak sehingga kulit padi pecah mirip pop corn). Kantong kresek itu disimpulnya, disangkutkan di stang sepeda.

Di kawasan muara sungai yang tak lebar benar, telur ayam, sekapur sirih dan bereteh dimasukkan jadi satu dalam tempurung kelapa dengan lilin yang telah menyala apinya. Sebelum menghanyutkan tempurung kelapa di tangan kanannya, Ngah Saad duduk takzim bersimpuh di atas tangga papan Belian menatap permukaan sungai.

“Wahai Datuk penunggu muara sungai, aku hendak menikahkan Nurma dengan Amrullah Jumat lusa, tolonglah engkau jaga dari gangguan apapun. Tolonglah Datuk. Tolonglah aku. Tolonglah…!” suara tuanya bergema di antara rerimbunan hijau hutan Bakau di muara sungai Tanjung ipah yang sepi, jauh dari pemukiman warga. Ia lantas melepas tempurung kelapa beserta muatannya ke permukaan sungai, perlahan hanyut terbawa arus ke muara pesisir Selat Karimata. Jaraknya tak jauh, kurang lebih setengah jam berkayuh sampan kecil.

Tempurung kelapa yang masih bersabut belum lama dihanyutkan, suara guntur menggelegar memecah keheningan. Langit yang semula cerah berubah gelap. Seketika hujan turun. Deras! Ngah Saad yang duduk di pinggir sungai kehujanan, tak ada tempat berteduh. Dengan kedua tangan menyilang di dada menahan hawa dingin, diamatinya tempurung kelapa yang hanyut terbawa arus sungai. Nyala api lilin padam. Tempurung kelapa semakin kecil dalam pandangannya, terombang-ambing terkena gelombang dan air hujan lalu hilang di balik sebuah kelokan.

Advertisements