Cerpen M. Faizul Kamal (Radar Banyuwangi, 20 Januari 2019)

Burung Siak di Lepau Seberang Jalan ilustrasi Radar Banyuwangiw.jpg
Burung Siak di Lepau Seberang Jalan ilustrasi Radar Banyuwangi

SEGEROMBOL pipit turun dari tebing Bukit Patiayam menuju persawahan. Elang mengincarnya dari belakang. Formasi pipit kocar-kacir, menjauh dari incaran si elang hitam bermata tajam. Dari sisi utara, burung siak terbang pelan dan sendirian.

Aku berjalan menggendong tas ransel, sambil melihat burung-burung, persawahan, ladang, dan kali. Di kali yang airnya cukup bersih dan tenang, anak-anak udik mandi dengan riang. Kecipak-kecimpong airnya meriak sampai ke ibu-ibu yang mencuci baju di pinggir kali. Anak-anak itu bermain air, berlama-lama menahan nafas di dalam air, atau meloncat  dari atas batu besar yang menjorok ke kali.

Apa yang mereka lakukan mengingatkan masa kecilku. Dulu, Emak biasa menggendongku ke kali sambil membawa pakaian kotor. Sesampainya di kali, sebelum mencuci pakaian, Emak memandikanku terlebih dahulu. Hal itu sudah menjadi kebiasaan setiap pagi.

Gerimis tiba-tiba turun. Angin mulai terasa kencang. Desaku tidak terlalu jauh lagi. Untuk sampai sana masih melewati beberapa sawah dengan jalanan setapak, berbatu, dan melewati jembatan gantung yang menjadikan orang ragu melewatinya jika baru pertama kali.

Aku terus berjalan. Gerimis semakin menderas saja. Anak-anak udik dan ibu-ibu mulai bergegas dari kali. Kuamati ibu-ibu itu, baju-baju yang mereka cuci belum kelar semua, tapi terpaksa menyudahi pekerjaannya.

Aku menjumpai lepau di bawah pohon mangga dan kersen seberang jalan. Kulihat dari jauh, seorang lelaki paro baya menyulut rokok. Ia lalu berjalan membawa segelas kopi kepada remaja berpenampilan seperti preman. Daripada kehujanan, aku mampir ke sana saja.

Ketika sampai di lepau, aku bersalaman kepada remaja yang duduk di dipan. Kusapa dia. Ternyata, orang ini baik. Padahal, penampilannya mengerikan: bertato, berkalung, dan bertindik. Usai bersalaman, aku bergegas masuk tanpa banyak berkata.

Monggo, Mas,” kata bapak pemilik lepau ketika aku masuk ke dalam. “Sampeyan dari mana, Mas? Kok bawa tas besar.”

“Saya dari Jogja, Pak. Mau pulang ke Selalang. Berhubung hujan, saya mampir ke lepau Bapak. Sepertinya hujan bakal lama.”

Advertisements