Cerpen Salman Rusydie Anwar (Kedaulatan Rakyat, 20 Januari 2019)

Beau Memilih Diam ilustrasi Joko Santoso - Kedaulatan Rakyatw.jpg
Beau Memilih Diam ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat

AKU tahu, tidak mudah merajut kembali hubungan keluarga yang telah retak oleh kebencian. Ketika kebencian menempati sebuah ruang dalam hati yang seharusnya diisi cinta dan kehangatan, seisi rumah seperti dipenuhi api neraka.

Aku telah melewatkan dua jam lebih sejak Ubay menelpon dan bercerita bahwa ia bertengkar hebat dengan mertuanya hanya karena berbeda dukungan dalam pilkades yang akan dilaksanakan dua hari lagi di desanya.

“Aku sebenarnya lelah terus-terusan perang mulut setiap hari. Apalagi dengan mertuaku sendiri. Tapi aku juga tidak bisa diam kalau dia bicara macam-macam soal tokoh pilihanku,” katanya dengan suara tinggi.

Dengan setengah berkelakar aku berkata bahwa sebaiknya mereka berdua bertengkar saja terus sampai sama-sama merasa jenuh dan letih. Ubay tertawa mendengar saranku yang dia tahu itu hanya gurauanku saja.

“Berhentilah bergurau. Aku ingin kamu memberiku saran,” pintanya dengan suara ditekan.

“Yakin mau ikuti saranku?”

“Ya. Aku lelah, malu,” jawabnya.

“Kalau begitu, datangi saja mertuamu. Pandang wajahnya, jabat tangannya. Setelah itu, duduklah di dekatnya. Duduk saja, dan diam. Lakukan setiap hari selama lima belas menit.”

“Kau gila. Hanya duduk diam begitu, mana mungkin berhasil,” sanggah Ubay.

Aku kemudian bercerita soal kenalanku di Amerika. Namanya Beau. Dia karyawan sebuah panti sosial yang ditugaskan menghibur dan mengajak berbicara orang-orang yang hatinya diliputi kebencian sehingga menganggap setiap orang yang berbeda dengan mereka adalah musuh. Suatu waktu Beau menangani seorang nenek yang menganggap anak-anaknya adalah musuh karena sering berbeda pendapat, di mana si nenek itu cenderung memaksakan pendapatnya. Di kamarnya, nenek itu selalu menatap tembok seharian dengan kedua mata penuh amarah. Dia tak pernah mau berbicara dengan siapa pun sejak dikirim ke panti itu.

Advertisements