Cerpen Mashdar Zainal (Koran Tempo, 19-20 Januari 2019)

Mayat di Atas Bukit ilustrasi Koran Tempow
Mayat di Atas Bukit ilustrasi Koran Tempo 

Istriku belum pulang sejak lima hari lalu. Dan tadi pagi, seorang peladang jagung di atas bukit menemukan seonggok mayat perempuan. Apakah mayat perempuan itu mayat istriku? Aku tidak tahu, sebab aku belum melihatnya dan aku enggan melihatnya. Untuk apa menonton seonggok mayat, pikirku. Lagi pula, kalau itu mayat istriku, aku tak ingin melihatnya. Memangnya suami mana yang mau melihat istrinya ditemukan di atas bukit dan sudah menjadi mayat? Hati kecilku bilang, itu bukan istriku, itu tak mungkin istriku.

Lalu ke mana istriku? Kenapa dia lima hari tidak pulang? Aku juga tidak tahu. Mungkin dia pergi ke rumah orang tuanya. Bisa juga dia menginap di rumah saudara-saudaranya atau teman-temannya. Akhir-akhir ini aku dan istriku sudah tidak bicara. Bisa dibilang kami sudah pisah ranjang. Kami menikah sudah dua tahun dan kami punya banyak ketidakcocokan. Aku menikahi istriku sebab aku tak mau dibilang bujang lapuk. Begitu juga istriku, dia menikahiku semata untuk menyenangkan orang tuanya saja-yang terus mendesaknya untuk cepat nikah. Dan kami belum dikasih anak. Sedangkan orang tua kami tak henti-henti menagih cucu. Seperti menagih utang. Setiap ketemu selalu saja bertanya, “Apa perut istrimu sudah isi, kapan mau punya momongan, kami suka mimpi gendong cucu…?” dan seterusnya.

Tentu saja kami belum dikasih anak. Sebab, selama dua tahun kami menikah, istriku tak mau kusentuh. Awal-awal, aku mengira dia masih takut. Lalu aku membiarkannya. Lambat laun dalam hitungan bulan, dia masih belum berubah. Dia tak mau kusentuh. Bahkan setelah kudesak, bahwa untuk memenuhi impian orang tua kami: menimang cucu, kami memang harus melakukan itu. Suami-istri memang harus melakukan itu. Semakin aku memaksa istriku, perempuan itu semakin enggan. Setiap kali aku mendekatinya, dia selalu mengelak. Kadang di matanya seperti ada tatapan jijik. Pernah suatu ketika aku memaksanya secara fisik. Dia malah berteriak-teriak seperti orang kesetanan. Dia memekik, katanya aku lelaki bejat pemerkosa. Mana ada suami memperkosa istrinya sendiri, kataku. Lalu dia bilang, dia jijik padaku, dia menyesal sudah menikahiku. Aku pun mengatakan hal yang sama. Dan sejak itu, diam-diam kami saling memusuhi.

Advertisements