Cerpen Aljas Sahni (Kabar Madura, 18 Januari 2019)

Mengkalungkan Celurit di Leher Sendiri ilustrasi Istimewaw
Mengkalungkan Celurit di Leher Sendiri ilustrasi Istimewa

LOLONGAN anjing dan suara gagak saling bersahutan, menggema pada setiap langkah Durakmat yang sedang berjalan pulang. Dia tertawa kemenangan, setelah dia memberi kepedihan pada orang yang dia bunuh. Lelaki separuh baya itu tampak lebih gagah dengan jaket yang penuh sobekan, celana pendek berwana hitam, serta celurit berlumuran darah yang menggantung di tangan sebelah kanan.

Durakmat mulai melihat gubuk kecil, rumah sekaligus tempat persembunyian bersama keluarganya. Sengaja gubuk kecil tersebut berada di tengah hutan, jauh dari pemukiman rumah, agar para polisi segan untuk menangkapnya, mengingat dia adalah seorang pembunuh.

Tiada senyum istri yang senantiasa menunggu kepulangannya. Pikiran-pikiran aneh pun berkelabat dalam otaknya. Namun, dia tetap berpikir positif, mungkin saja istri dan anaknya sudah terlelap.

Suara isakan Sayadi, anak tunggal Durakmat yang berusia 15 tahun, menggema di telinganya, kala dia mulai memasuki gubuk kecil. Kini jelas, perihal perasaan tidak enak yang menghantui. Durakmat membuka pintu pelan. Darahnya mulai mendidih, kala dia saksikan langsung kejadian yang begitu memilukan.

Istri yang sangat Durakmat cintai. Kini, dengan jelas terkapar berlumuran darah di depan matanya. Lehernya hampir putus, dengan darah yang terus bercucuran. Ada bekas sabitan di perutnya, yang ditandai dengan darah dari baju kumuh. Celurit sangkolan dari bapaknya yang juga seorang pembunuh, yang awalnya terpampang di dinding gubuk, tergeletak penuh darah di samping mayat perempuan itu. Sayadi menangis semakin keras, mata Durakmat mulai meneteskan airmata. Namun, sekilat dia hapus. Lantaran dia tidak mau, Sayadi melihat bapaknya yang seorang pembunuh menangis, meratapi istri yang sudah tidak bernyawa.

“Kenapa kau menangis? Kau adalah anak dari seorang pembunuh! Kau yang meneruskan hobi membunuhku, jangan lagi aku melihat kau menangis! Hanya karena Ibumu yang sudah mati karena dibunuh!” bentak Durakmat pada anaknya yang terus menangis, membuat Sayadi sadar dan menghentikan tangisnya.

Advertisements