Cerpen Dadang Ari Murtono (Radar Selatan, 14 Januari 2019)

Sebuah Rencana Anjing ilustrasi Muhary Wahyu Nurba - Radar Selatanw.jpg
Sebuah Rencana Anjing ilustrasi Muhary Wahyu Nurba/Radar Selatan

Tiktok jam cepat sekali. Andre Kecil mengacak rambutnya yang kusut dan bercat kuning tembaga. Kipas angin besar di langit-langit kedai minum itu menderum-derum.

“Tidak adakah yang bisa menghentikan kipas angin itu? Sungguh aku benci mendengar suaranya!” teriaknya. Beberapa pengunjung kedai menoleh ke arahnya. Beberapa seolah tak peduli. Pelayan berdada besar dengan langkah pendek mendekati Andre Kecil. “Kau boleh mabuk semampumu. Tapi kau tak boleh bikin rusuh di sini,” katanya seraya menyunggingkan senyum galak. Bibirnya merah menyala. Giginya putih bersih.

“Kau tak tahu apa yang terjadi, Sundal!” teriak Andre Kecil. Sejumlah gumpalan ludah bacin terlontar dari liang mulutnya. Matanya merah. Wajahnya merah. Matanya tinggal segaris. Namun dari celah sempit itu, si pelayan tahu bahwa Andre Kecil tengah ketakutan. Perempuan tiga puluhan tahun yang masih betah melajang itu tahu siapa Andre Kecil dan bagaimana lelaki itu mendapatkan reputasinya yang menakutkan. Badan Andre Kecil boleh kurus dan mini untuk ukuran seorang lelaki—seratus empat puluh tiga sentimeter dan tiga puluh tujuh kilogram, dan postur itulah yang bertanggungjawab terhadap julukan “Kecil” di belakang nama aslinya—namun keberanian dan kebrutalannya tak tersangsikan lagi. Dalam sebuah perang memperebutkan lahan parkir liar di pasar kecamatan, Andre Kecil yang waktu itu masih berusia enam belas tahun—sebelas tahun yang lampau, membuntungi lengan kiri Jon Badas, preman penguasa pasar kecamatan yang tengah berada pada masa-masa jayanya dan konon memiliki ilmu kebal yang didapat setelah bersekutu dengan jin-jin dari lereng Welirang. Dan siapa yang tidak tahu bahwa Andre Kecil adalah orang yang bertanggungjawab terhadap pembegalan truk-truk pengangkut beras atau gula yang melintas di jalan raya Mojokerto-Jombang? Dua kali ia dikirim ke Lapas Medaeng—masing-masing dua dan tiga tahun untuk kasus penodongan dan pembobolan sebuah toko kelontong. Dan di dalam penjara itu, ia menempatkan dirinya sebagai penguasa yang disegani dan ditakuti berkat ketangguhannya menundukkan sejumlah tahanan lain yang terkenal garang. Karena itu, pikir si pelayan, adalah hal yang luar biasa mengetahui ada semacam ketakutan di bola mata Andre Kecil.

Advertisements