Cerpen Juniar Amalia (Pikiran Rakyat, 13 Januari 2019)

Bukit Pertemuan ilustrasi Fauzia Khoirunnisa - Pikiran Rakyatw.jpg
Bukit Pertemuan ilustrasi Fauzia Khoirunnisa/Pikiran Rakyat

TERINGAT di suatu subuh yang kelabu di hari Selasa. Saat itu hujan gerimis menemani setiap detik para calon penumpang bus di sebuah halte kecil. Untuk melindungi dari hujan gerimis subuh itu, orang-orang membuka payung yang dibawanya, atau hanya mengandalkan mantel yang dipakainya, ada pula yang ikut merapat bersama para calon penumpang bus di bawah naungan halte.

Di belakang halte tersebut, ada seorang ibu yang menjajakan dagangannya untuk sekadar memberikan kehangatan kepada para calon penumpang bus. Kopi, susu, teh, gorengan, dan aneka minuman dan makanan lainnya siap disajikan dalam keadaan masih hangat. Para kenek angkutan antarkota berteriak-teriak menawarkan tujuannya kepada para penghuni halte menambah keramaian subuh kala itu.

Ketika bus tiba, aku pun bersama dengan para calon penumpang cepat-cepat merapat ke depan pintu bus yang telah dibuka. Ada yang berharap masih ada kursi kosong yang tersisa untuk diduduki. Ada juga yang sudah tahu bahwa bus di waktu subuh pastilah penuh, jangan harap dapat kursi untuk diduduki sambil menuntaskan rasa kantuk yang melanda sisa malam tadi, karena halte ini adalah halte pemberhentian ketiga rute bus ini.

Baca juga: Seribu Cahaya di Langit Muram – Cerpen Bia R (Pikiran Rakyat, 06 Januari 2019)

Desing suara pintu bus ditutup pun terdengar. Tak ada penumpang lain lagi yang akan masuk. Bus pun berjalan dengan kecepatan biasa meninggalkan keramaian di halte ketiga. Aku pun melihat-lihat seluruh kursi, tetapi tak kudapati satu pun yang kosong. Aku pun meraih pegangan yang menggantung di bagian atas bus ini. Mencoba menjaga keseimbangan.

Kuperhatikan langit di luar. Semburat cahaya matahari mulai memperjelas pemandangan di sisi-sisi jalan. Orang-orang mulai membuka tokonya. Buruh-buruh mulai berdatangan menuju pabrik. Para pekerja berjalan cepat-cepat ke arah kantornya. Anak-anak sekolah diantar para orangtua.

Advertisements