Cerpen Beni Setia (Kedaulatan Rakyat, 13 Januari 2019)

Solituda ilustrasi Joko Santoso - Kedaulatan Rakyatw.jpg
Solituda ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat 

GERBONG nomor 3, dari rangkaian kereta eksekutif, yang berangkat 20.33 dari M—di 4 jam sebelumnya, dari S—: tidak pernah sampai ke B. Memang kereta itu terlambat, dari seharusnya 05.49 jadi 10.11, dikarenakan anjlok di K. Aku tak ingat detilnya: Begitu naik aku mengobrol, dengan yang terlebih dulu duduk. Permisi, karena akan memakai jatahku, yang telah membuatnya bisa meringkuk di dua tempat duduk. Mengobrol. Menawarinya makan, meski hanya satu nasi bungkus. Dan setelah makan, minum air mineral, pamit ke kamar kecil, dan merokok di bordes—saat itu belum ada larangan merokok.

Balik. Dan si di sebelah telah tidur—berbalut selimut, bagai kepompong

***

SUDAH tengah malam. Semua sudah tidak mengobrol lagi—sudah bosan dan cape. Agak merebahkan sandaran kursi, dan di setengah berselonjor berkerodong selimut dan membenahkan kepala di bantal kecil—melupakan sekitar, tertidur, atau pura-pura tertidur dan asyik dalam kepala, berangan-angan. Rasanya, setelah menggeronjal ketika membelok di jembatan kecil—hentak tetak roda menimbulkan gaung di palung sungai alit itu—, loko tersengkelit, menggelincir serta terjungkir—menghunjam dengan meluncur sambil membongkar tanah sempadan rel. Rodanya terus berputar, mesin menderam, yang keras menggerung. Disusul lesakan gerbong kesatu, dan dilanjutkan dengan si gerbong kedua, menanduk gerbong pertama—bunyinya berdebum.

Baca juga: Kalender Terakhir – Cerpen Sule Subaweh (Kedaulatan Rakyat, 06 Januari 2019)

Gerbong berguncang—jerit orang yang dipaksa terjaga, kaget serta kesakitan. Aku ingat: gerbong ketiga menumbuk dan terpantul, dan kembali menumbuk lagi setengah didorong laju dan bbot berat gerbong keempat. Terlepas dari rangkaian, dengan ujung yang melambung, dan seluruh beratnya itu tersentak ke ujung rangkaian gerbong kedua. Merapung separuh lingkaran, dengan inti pusat rangkaian, lalu berdebam, jatuh menghantam sempadan. Kaca jendela, yang tebal itu, pecah. Lempeng kaca menghunjam ke panggkal kepala—saat terjerunuk—, dan menggelontorkan darah. Lantas aku tak ingat apa-apa.

***

Advertisements