Cerpen Ni Komang Ariani (Kompas, 13 Januari 2019)

sekuntum bunga marigold ilustrasi karina rizkyta - kompasw
Sekuntum Bunga Marigold ilustrasi Karina Rizkyta/Kompas

Mimpi yang berulang. Bunga Marigold. Candi-candi keemasan berubah warna menjadi merah. Patung setengah manusia dan setengah burung yang bisa bergerak-gerak seolah hidup. Memilin-milin dan tumpang tindih dalam mimpiku sepekan ini.

Alur ceritanya semakin lama semakin ganjil. Bahkan kadang tanpa alur cerita sama sekali. Bunga marigold. Candi-candi berwarna kemerahan. Patung manusia berkepala burung. Hanya itu yang bisa aku ingat dengan jelas. Selain sebuah jejak perasaan yang mengganjal bersamanya. Perasaan sedih dan marah sekaligus.

Seperti ada seseorang yang telah berbuat curang, dan aku tak bisa berbuat apa-apa. Tak berdaya. Kedua tanganku seperti dirantai, untuk menonton. Tanpa mampu berbuat apa pun.

Mungkinkah karena aku telah kelewat menjejali pikiranku dengan segala informasi tentang candi-candi di Thailand? Tentang Doi Suthep, Wat Phrasing, Wat Chedi Luang, Wat Umong, dan lain-lain. Mungkinkah kepalaku meledak karena timbunan informasi dan alam bawah sadar mengambil sebagian dari tugas itu. Atau aku sedang dituntun oleh sebuah firasat. Entahlah.

Baca juga: Perempuan Berambut Api – Cerpen Ni Komang Ariani (Kompas, 12 November 2017)

Aku tidak punya pilihan. Hanya sebulan waktu yang diberikan kepadaku untuk menghafalkan semua informasi tentang tempat-tempat wisata di Chiang Mai. Bosku mengatakan, lafal bahasa Inggrisku lebih bagus daripada kebanyakan orang Thailand. Para turis itu akan lebih mudah mengerti kalimat yang aku ucapkan. Masalahnya, aku teramat buta dengan sejarah candi-candi di Chiang Mai. Ini seperti sistem kebut semalam untuk menghadapi ujian.

“Satu bulan lebih dari cukup untukmu. Apalagi kamu suka dengan candi dan segala hal yang berhubungan dengan sejarah.”

“Betul, tapi sebulan sepertinya terlalu singkat.”

Advertisements