Cerpen Beni Setia (Haluan, 13 Januari 2019)

Perjalanan Pulang ilustrasi Istimewaw.jpg
Perjalanan Pulang ilustrasi Istimewa

Imagine there’s no countries

It isn’t hard to do

No thing to kill or die for

No religion too

Imagine all the people

Living life in peace …”

(“Imagine”, John Lennon)

 

UJUD Stasiun itu amat memanjang—mungkin sepanjang seratus meter, dari tepian akhir bangunan sampai di ujung bangunan beratap dan bertembok. Mirip sebuah los—ada sebuah gerbang, menghadap halaman untuk kendaraan, dan setelah halaman tertutup, ke kanan arah memanjang untuk peron, untuk mencari loket dan membeli karcis, dan ke kiri adalah jalur-jalur rel, yang juga bangunan los beratap sepanjang seratus meter, tempat parkirnya gerbong barang dan terutama gerbong penumpang sebelum diperkenankan naik, hingga calon penumpang—dengan isyarat pengumuman di pelantang stasiun, bergegas masuk setelah berjejalan di lobi utama.

Baca juga: Solutida – Cerpen Beni Setia (Kedaulatan Rakyat, 13 Januari 2019)

Dan kernet itu yang bilang, bahwa “kami harus berhenti dekat pintu masuk, dan masuk ke stasiun lewat gerbang itu.” Aku mengangguk—dan sepanjang jalan memang tidak ada celah untuk mnyelinap. Dan salah satu penumpang yang bilang, bahwa “untuk mencari loket karcis dan membeli tiket kita harus bergerak ke kanan.” Dan katanya, lagi, “di sana kita bisa istirahat sejenak dan jangan bergegas ke luar tempat itu, terlebih bedesakan dalam kerumunan orang yang ingin bergegas segera masuk kereta—jangan takut, pasti kebagian tempat duduk, tapi jangan salah semua loket hanya menjual tiket dengan stasiun tujuan pasti, hanya menjual tiket tunggal. Hati-hati, cari loket tujuan stasiun yang benar—loket-loket memanjang, di sebelah utara, dan di setiap delapan meteran …”

Aku mengangguk dan Go juga mengangguk—lalu mengangguk-ngangguk mengikuti lantunan CD bajakan yang dikumandangkan penjual di lapak yang mepet ke tembok stasiun. Dan lantas angkot berhenti, kami turun, dan aku membayar sewa menumpangnya.

***

Advertisements