Cerpen Ihan Sunrise (Serambi Indonesia, 13 Januari 2019)

mak ilustrasi tauris mustafa - serambi indonesiaw
Mak ilustrasi Tauris Mustafa/Serambi Indonesia 

DALAM tidurnya Sani seperti melihat wajah Mak. Perempuan paruh baya itu meringis-ringis menahan rasa sakit, sambil berusaha menggapai-gapai bahunya yang tertidur tidak jauh dari Mak. “Sani! Bangun! Sani, ambilkan minum untuk Mak. Mak haus…”

“Bangun!”

Sani terperanjat. Ia lebih terkejut saat melihat seorang perempuan tua membungkuk di hadapannya. Tangan kanan perempuan itu masih menyentuh pundaknya. Degup jantung Sani mendadak tak beraturan. Siapa nenek ini?

“Kamu ketiduran, Nak. Sudah hampir pukul sepuluh malam, pulanglah,” ujar perempuan itu sambil melirik jam yang menempel di tembok masjid.

Sani segera memulihkan kesadarannya. Kepalanya masih terasa pening. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Lalu kembali tertuju pada perempuan tua yang masih berbalut mukena di hadapannya.

“Terima kasih, Nek,” ujar Sani pendek. Ia seperti orang linglung. Tak tahu harus mengatakan apa.

“Nenek duluan ya.”

Baca juga: Robin – Cerpen Ikhsan Hasbi (Serambi Indonesia, 06 Januari 2019)

“Iya, Nek. Sekali lagi terima kasih sudah membangunkan saya.”

Nenek tersebut mengangguk dan segera menghilang di balik pintu masjid.

Sani memasukkan Alquran sakunya ke dalam tas, lalu melepas mukena. Ia kembali menyandarkan kepala ke dinding. Merunut kejadian hari ini yang membuatnya sampai ketiduran di dalam masjid usai salat Isya tadi. Kepalanya terasa berat. Matanya terasa sembab.

Tak susah untuk mengembalikan ingatan itu. Suara Mak yang terisak-isak di telepon sudah terekam dengan baik di memorinya. Sampai kapan pun akan sulit bagi Sani untuk menghapusnya. Akhir-akhir ini setiap kali meneleponnya, Mak pasti menangis. Rasa sakit yang Mak rasakan selama bertahun-tahun seolah mencapai puncaknya tahun ini. Bukan bertahun-tahun, tiga minggu lagi genap sebelas tahun. Sejak ayah meninggal dunia.

Advertisements