Cerpen Saiful Bahri (Radar Banyuwangi, 13 Januari 2019)

Kisah Anjing Belang ilustrasi Radar Banyuwangiw.jpg
Kisah Anjing Belang ilustrasi Radar Banyuwangi 

Namaku adalah angin, sejenak menyamar jadi dalang sekaligus pembawa alur cerita. Perempuan itulah yang menyebutku musim angin yang menyambar kesemuan di seberang surau. Aku ini adalah suara yang mengatur kisah-kasih cerita. Akan kuceritakan anjing itu pada waktu. Pada siapa pun yang mau baca cerita ini. Atau bahkan pada janji yang sudah sempat kulalui. Tapi, janganlah pembaca tiru gerak-gerik aksi anjing ini. Sekali lagi jangan ditiru: anjing ini telah melukai perempuan itu berkali-kali.

***

Begitu sampai pada hari di bulan Juni. Mendung kian meraung. Kebahagiaan itu hanya tersisa bagi tubuh-tubuh halimun. Dirahasiakannya tubuh mendung berselimut kabut di rahim senja. Perempuan itu kerap menangis pasca ditinggal kekasihnya. Seakan ia tak kuasa memikul luka dan kecewa. Hanya Junaidi yang merasa bangga ketika mendapati suatu kabar perihal perempuan luka itu. Barangkali perempuan itu merasa: kenangan adalah suatu hal yang tak bisa dikalahkan dan diobati begitu saja. Sebab kenangan yang menyakitkan tak bisa ditukar dengan waktu. Tak bisa ditebus dengan rupiah.

“Sakit ini bermula semenjak tubuhku ditinggal pergi. Junaidi pergi tanpa pamit pada diriku tepat di hari ulang tahunku. Andai saja dirinya mau jadi suamiku, aku rela menjadi madu. Madu muda dari istri dan anaknya,” gumamnya di suatu sore menghalangi kabut senja.

Baca juga: Tertindas Waktu – Cerpen Jihan Nabilah Yusmi (Radar Banyuwangi, 06 Januari 2019)

Kini tiba saatnya ia harus menerima kenyataan. Perempuan itu tak pernah melihat lelaki itu di dekat pasar tradisional. Biasanya, Junaidi kerap melintas di pasar itu. Beda halnya sekitar satu bulan yang lalu saat cintanya masih ada. Perempuan itu kebingungan pasca ditinggal Junaidi. Sesekali ia ceritakan lukanya pada angin. Tubuhnya kering pucat. Matanya semakin memerah ketika ia sempat mengingat pertemuan terakhirnya dengan Junaidi, tepat di malam tua itu. Tak ubahnya tersabet luka di hatinya yang sempat membuatnya terbaring sakit. Bagi perempuan muda itu, luka ini olah Junaidi.

Bagi Junaidi, ada banyak cara ketika menghadapi perempuan itu. Baginya pun terasa indah bila dibuat alur cerita.

“Apa salahnya kuceritakan lukanya pada Jacky,” tutur Junaidi di suatu malam ketika mendapati perempuan itu sedang curhat pada Jacky. Seolah-olah perempuan itu merasa kuat memikul beban dan derita. Entahlah jika perempuan itu hanya pura-pura bangkit dari luka seperti mimpi belaka.

***

Advertisements