Cerpen Wiji Lestari (Republika, 13 Januari 2019)

dunia sean ilustrasi rendra purnama - republikaw
Dunia Sean ilustrasi Rendra Purnama/Republika

“Ignas melamarku lagi, Din, apa yang harus kukatakan?” Suaranya dari ujung telepon terdengar galau, mungkin memang begitu keadaannya. Kubayangkan ia tengah menggigit bibir untuk menekan kegalauan, membuatku terkekeh.

“Terima saja, kalian sudah lama kencan, mau ngapain lagi? Kamu nggak ada rencana kumpul kebo seumur hidup, kan?” Candaku.

“Gila, tentu saja tidak, Dinar!” Kudengar tawanya pecah “kami saling mencintai,” lanjutnya Entah berapa ratus kali ia meyakinkanku dengan kalimat terakhir, dengan tujuan apa pula?

Turut bahagia jika benar lelaki yang menurut cerita Sean berkebangsaan Jepang itu serius menjalin hubungan dengannya. Betapa tidak? Sean perempuan dewasa yang sudah seharusnya enjoy dengan cinta. Hmm, ya cinta…

Baca juga: Rindu di Tangkai Senja – Cerpen Irwan Kelana (Republika, 06 Januari 2019)

Sambungan telepon kami terputus dengan gurau kecil. Kuhela napas, lalu mencecap kopi panas dalam cangkir antik. Sebuah cangkir istimewa buatan lelaki itu, yang begitu egois. Dia pergi tanpa sedikit pun pesan, apalagi janji untuk kembali.

Aku betul-betul kecewa. Tapi, apalah guna luka dan kecewa yang ditinggalkannya, ia mangkir tak kan pernah hadir.

Persahabatan ini terasa berseri bagai hadirnya musim semi. Cerita lamaran Ignas membawaku menempuh perjalanan dari Malang menuju kota batik, Pekalongan. Keluarga Sean pindah dari Malang setelah tragedi kecelakaan nyaris merenggut nyawa putri tunggal mereka. Aku tak banyak mengingat hal ihwal kepindahan itu. Bahagia, hanya itu yang kurasakan sepanjang perjalanan.

Baca juga: Kaki Sewarna Tanah – Cerpen Eka Dianta BR Perangin-Angin (Republika, 23 Desember 2018)

Percakapan di media WhatsApp terjalin lancar dengan Sean Andara Lee, perempuan keturunan Tiongkok yang tidak banyak teman semasa SMA meski kecantikannya cukup populer saat itu. Visualisasi masa berseragam abu-abu putih melintasi benak, memori, yang kami lalui bersama.

Tapi, oh! Entah kenapa tiba-tiba kepalaku nyeri luar biasa ketika serangkaian masa lalu melintas, hingga beberapa hal lenyap dari ingatan, tak bersisa!

Sepasang kaki bersepatu kets putih menjejak halaman rumah pada alamat yang diberikan Sean, tepat pukul sembilan malam.

Advertisements