Cerpen Sirojul Khafid (Media Indonesia, 13 Januari 2019)

Dia Pulang dengan Lidah Terpotong ilustrasi Bayu Wicaksono - Media Indonesiaw.jpg
Dia Pulang dengan Lidah Terpotong ilustrasi Bayu Wicaksono/Media Indonesia

PATRIK pulang dengan merangkak. Konon, Arwah Jahat di Hutan Terlarang telah memberinya pelajaran. Ia lancang memasuki kediaman mereka tanpa izin. Alhasil, lidahnya dipotong.

***

LAMTIUR sudah tiga jam berdiri di teras. Memandang hutan di depannya yang hanya berjarak dua ratus langkah kaki. Kebiasaan itu dia lakukan setiap pagi dan sore hari. Setiap memandang Hutan Terlarang, wejangan ibunya selalu muncul, seakan keluar dari persembunyiannya.

“Jangan sekali-kali mendekati, apalagi masuk Hutan Terlarang. Siapa pun yang masuk, akan keluar dengan tubuh babak-belur, cakaran, dan lidah terpotong. Ada Arwah Jahat di sana. Dahulu, Arwah Jahat menyerang desa, untung kepala desa saat itu bisa menangkap dan menguncinya di hutan,” kata ibu Lamtiur suatu malam.

“Kau ingat nasib temanmu si Patrik kan? Ceroboh sekali dia, berlagak melanggar aturan. Sekarang masih dalam penyembuhan oleh kepala suku kita di rumahnya, sudah berbulan-bulan,” tambah ibunya dengan raut muka kadang cemas kadang geram.

Baca juga: Kepada Siapakah Dia akan Menyusu? – Cerpen Caroline Wong (Media Indonesia, 06 Januari 2019)

Tapi, kalian tahu? Kata ‘jangan’ selalu beriringan dengan rasa penasaran. Jangan pernah berkata ‘jangan’ kepada anakmu kalau kau tidak ingin ia melakukan sesuatu yang kau larang.

Di rumah panggung reot, Lamtiur menunggu ibunya bekerja di ladang. Hanya barisan serangga di tembok kayu yang selalu dia ajak bicara. Dia senang berbicara dengan serangga atau hewan yang kadang mampir di rumahnya. Katanya, hewan-hewan itu tidak akan pernah mencela atau tidak setuju dengan apapun yang dia utarakan.

“Kau tahu? Aku selalu membayangkan bisa bermain dan berlarian di hutan itu. Makan buah-buahan, memanjat pohon, melempari monyet, atau hanya sekadar tidur di samping sungai,” kata Lamtiur kepada tupai yang sedang mampir di rumahnya. Tupai hanya diam—tentu saja—apalagi buah pemberian Lamtiur belum habis di mulutnya.

Advertisements