Cerpen Dede Soepriatna (Padang Ekspres, 13 Januari 2019)

Dendeng Balado Amak ilustrasi Orta - Padang Ekspresw.jpg
Dendeng Balado Amak ilustrasi Orta/Padang Ekspres 

Tak ada sesuatu yang lain dari keluarga kami. Amak hanya ibu rumah tangga biasa yang lebih banyak menghabiskan waktunya di dapur, sumur dan kasur. Sedang apak bekerja sebagai tukang angkek di pasar. Dan aku sendiri hanya bocah lima belas tahun yang kadang lebih banyak ingin tahu. Tetapi, kami punya cara sendiri untuk merayakan hari-hari kami yang terlampau biasa itu, yakni menyantap dendeng balado amak setiap malam Sabtu.

“Aku bersumpah tak ada dendeng balado lain seenak buatan amak kau, Rambun,” kata apak di seberang meja dengan mulut yang masih penuh.

Amak yang mendengar pujian apak itu hanya tersenyum, kemudian mengambil dendeng balado dan menaruhnya di piring apak yang hampir kosong.

“Sampai kapan pun aku tak akan pernah bosan dengan dendeng balado,” puji apak sekali lagi dengan mulut yang tidak bisa berhenti mengunyah.

Sebenarnya amak bukan hanya pandai memasak dendeng balado saja, tetapi juga rendang, sate, soto, ikan balado, dendeng batokok, gulai itiak, gulai tauco, gulai banak dan gulai pakis. Bukan hanya itu, amak juga pandai sekali membuat makanan dari daerah lain seperti asinan Bogor, rawon, rujak cingur, mi kocok, karedok, soto kuning, empal gentong, ikan asar, acar kuning dan masih banyak lagi yang lainnya. Tapi entah kenapa dendeng balado itu benar-benar terasa lebih mantap dan menjadi satu-satunya makanan kegemaran apak di rumah. Aku tidak tahu. Hanya amak yang paham soal masakan.

“Mungkin karena Amak pakai daging yang masih segar,” kata amak suatu waktu.

Aku diam saja. Kurang puas dengan jawabannya.

“Atau mungkin karena bumbu yang Amak pakai adalah resep turunan dari mak gaek.”

Aku mengangguk-angguk sambil membantu amak membersihkan meja bekas makan malam.

“Atau mungkin juga karena Amak membuatnya dengan cinta.”

“Bisa jadi,” timpalku.

Advertisements