Cerpen Bonari Nabonenar (Jawa Pos, 13 Januari 2019)

dari ciuman ke tiang gantungan ilustrasi budiono - jawa posw
Dari Ciuman ke Tiang Gantungan ilustrasi Budiono/Jawa Pos

CIUMAN? Seperti tiba-tiba dilamar perjaka tampan tatkala kata itu dia sampaikan. Mengapa dia menawarkan: ciuman? Sungguh, aku seperti mendadak pusing. Dan angan-anganku menjadi sedemikian liar.

Setahun lalu aku mencoba menghubungi melalui akun medsos-nya. Itu pun atas saran seorang kawan yang di komunitas kami dipandang sebagai senior. Bukan cuma dia sebenarnya yang direkomendasikan. Ada beberapa nama. Dan sudah kuhubungi semuanya. Tetapi, komunikasi kami selalu tidak lancar. Ketika aku meminta saran mengenai buku yang sebaiknya kubaca, cepat sekali kuterima daftarnya.

Ketika kusodorkan cerita-cerita pendekku, beberapa di antaranya sudah dimuat media cetak lokal, jawaban yang kuterima malah lebih banyak pujian. Itu pun dalam kalimat-kalimat pendek. Seperti gaya seorang Tino Sidin atas lukisan anak-anak sekolahan. Padahal, aku butuh dikritik. Aku ingin tahu, mengapa cerita-ceritaku hanya mandek di media cetak lokal, tak sepotong pun—dari puluhan yang pernah kukirimkan—berhasil menembus media cetak berskala nasional. Oh, maksud saya, media cetak yang terbit dari tanah air!

Baca juga: Kyai Sepuh – Cerpen Seno Gumira Ajidarma (Jawa Pos, 06 Januari 2019)

Ah, mungkin mereka kelewat sibuk untuk melayani anak bawang yang terlalu banyak meminta sepertiku. Suatu kali, kepada salah seorang di antara mereka kulancarkan protes, dan kudapat jawaban ini, “Banyak yang sepertimu kemudian justru mandek, tulisan-tulisannya seperti mampet setelah dikritik. Atau, kalau tidak demikian, malahan memebeberkan terlalu banyak alasan mengapa seharusnya memang demikian cerita itu dipaparkan.”

Semoga seperti yang kubayangkan, jawaban itu akan membuka peluang untuk terjadinya dialog jarak jauh yang lebih bernas di antara kami. Lalu, aku kembali menyodorkan karya terbaruku dengan permintaan, “Kritiklah, tanpa harus khawatir aku akan mandeg. Tulisan-tulisanku semakin laris di sini, beberapa media cetak malahan memesannya padaku. Itu membuat kantongku semakin sehat, dan bahkan kini tidak perlu kukeruk saldo di buku tabungan untuk mengirim dana bantuan setiap bulan bagi ibu dan adik-adikku di tanah air.” Sengaja kuberi alasan panjang-lebar agar dia benar-benar tidak khawatir aku akan patah hanya karena menerima kritik yang terlalu pedas, atau bahkan pahit sekalipun.

Advertisements