Cerpen Muhammad Aufal Fresky (Kabar Madura, 07 Januari 2019)

Nostalgia ilustrasi Kabar Maduraw.jpg
Nostalgia ilustrasi Kabar Madura 

Pandangannya masih fokus pada layar laptop. Jari jemarinya menari-nari di atas tuts keyboard. Dia tidak bergeser sedikitpun dari tempat duduknya. Sepertinya ada deadline yang harus diselesaikan malam ini. Pemuda satu ini benar-benar serius dalam menjalankan tanggung jawabnya.

Kafe Decost menjadi saksi bisu perjalanannya dalam merintis karir di dunia jurnalistik. Dialah Fardan, pemuda usia 25 tahun yang kini terasing dari dunia pergaulan metropolitan. Semenjak bekerja di sebuah harian surat kabar di Jogjakarta; secara perlahan dia mulai menemukan jawaban dari pencariannya selama ini. Memang, hampir semua teman-temannya menjuluki Fardan sebagai pemikir ulung.

Kebiasaan berpikir kritis itu sebenarnya mulai bisa dilacak ketika Fardan duduk di bangku sekolah. Beberapa tahun silam, ketika dia sekolah di SMAN 88 Bandung, ada suatu kejadian yang membuat geger seisi sekolah. Di tengah desas-desus penyelewangan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) oleh kepala sekolah, Fardan dengan nalar kritisnya tidak menjadi pengekor seperti teman-temannya yang mengganggap kejadian itu hanyalah isu yang dilemparkan oleh oknum luar sekolah untuk menghancurkan nama baik sekolah. Sebaliknya, Fardan dengan kualitas mudanya yang bergelora tidak mudah menerima pendapat-pendapat yang berkembang. Dia memilih menyelidiki isu tersebut agar menemukan titik terang. Sejumlah data mulai terkumpul. Fardan mulai menganalisis dan mencoba untuk menarik benang merahnya. Dia membuat coretan di buku hariannya.

Baca juga: Nur, Si Gadis yang Tidak Mencintaiku – Cerpen Michael Musthafa (Kabar Madura, 03 Desember 2018)

Setelah itu, dia memberanikan diri menghubungi salah satu redaktur media lokal di Bandung. Redaktur tersebut kenalan almarhum bapaknya. Kepada sang redaktur itu, dia menceritakan fakta-fakta terkait isu yang berkembang di sekolahnya. Sang redaktur menghimbau Fardan agar menuliskannya, dan besoknya akan dimuat sebagai sebuah laporan investigatif. Tanpa berpikir panjang, Fardan langsung bergegas pulang lalu menuliskannya dengan hati-hati. Kemampuan menulisnya tersebut sebenarnya mulai terasah ketika dia di SMPN 77 Bandung, kebetulan dia sebagai pengisi tetap mading sekolah. Jadi ketika di SMAN 88 Bandung bakatnya semakin terasah. Selanjutya, ketika tulisannya telah rampung, dia bolak balik mengkoreksinya. Setelah dirasa telah cukup, dia mengirimkannya via email yang telah diberikan oleh sang redaktur.

Advertisements