Cerpen Jihan Nabilah Yusmi (Radar Banyuwangi, 06 Januari 2019)

tertindas waktu ilustrasi reza fairuz - radar banyuwangiw
Tertindas Waktu ilustrasi Reza Fairuz/Radar Banyuwangi

SOROT sinar mentari menerobos melalui celah-celah dedaunan. Mataku masih mengerjap malas. Aku menggeliat perlahan dari posisi tidurku, kemudian duduk. Aku harus berhati-hati jika tak ingin tersungkur ke bawah. Dari atas pohon, kulihat pesona laut pagi ini begitu biru dengan ombak yang begitu nyaring menghantam karang. Inilah satu-satunya caraku untuk menyegarkan pikiran. Perlu dimaklumi, pulau sempit ini dihuni tak lebih dari 40 orang. Tempat ini adalah pulau di tengah laut yang belum banyak diketahui orang. Sebuah tempat rahasia. Black Market. Lokasi transaksi barang elektronik selundupan.

Semua orang di sini bekerja dengan bebas. Tak saling peduli kecuali saat saling membutuhkan suatu barang. Tempat yang tepat bagiku. Tak akan ada orang yang mengganggu dalam menggeluti misiku. Rumahku adalah kantorku. Kalimat itulah yang dapat meng gambarkan betapa bersepahnya rumahku dengan barang-barang elektronik dan berbagai perkakas. Tetapi rumah ini cukup nyaman untukku.

Terkadang aku pergi ke kota untuk membeli beberapa barang yang kubutuhkan. Tapi perlu perjuangan agar pemerintah ataupun warga tak mengenali sosokku. Aku mem-PHK diriku sendiri dari perusahaan sains. Pembuat barang-barang teknologi masa depan. Membuat perusahaan gulung tikar dalam sebulan dan investasi negara menurun. Maklum, aku berada di lantai atas. Lalu aku pergi tanpa tanggung jawab. Kemudian sosokku mulai terkenal dan dicari-cari.

Ah, aku jadi teringat Aidan.

Baca juga: Lelaki yang Dipasung – Cerpen Faruqi Umar (Radar Banyuwangi, 23 Desember 2018)

Malam itu, aku melihat anakku terbujur kaku dengan wajah pucat dan senyum wajah yang sedih. Padahal di pagi hari tawanya masih terdengar nyaring. Kanker itu tumbuh dengan cepat merusak sel otaknya, biadab!

Aku gagal menyembuhkannya. Aku merasa menjadi profesor yang tolol. Aku tertunduk memohon pada ilmuwan-ilmuwan lainnya agar membantuku mengembalikan Aidan. Namun, aku hanya melihat punggung mereka. Sampai akhirnya kuputuskan melakukannya sendiri. Ya sudahlah, bukan penyesalan. Otakku harus terus terperas untuk membuat suatu alat agar anakku kembali. Mesin waktu….

Aku menepis wajahku kasar, tersadar dari lamunanku yang memutar kronologis peristiwa mengapa aku sampai ada di sini. Semangat, Fredy! Semakin cepat kau menyelesaikannya, semakin cepat kau bertemu Aidan. Motivasi dari diri sendiri memang dibutuhkan, meskipun terlihat mengenaskan.

***

Advertisements