Cerpen Farizal Sikumbang (Kompas, 06 Januari 2019)

Tali Darah Ibu ilustrasi Ketut Endrawan - Kompasw.jpg
Tali Darah Ibu ilustrasi Ketut Endrawan/Kompas

Sebelum meninggal, ibu kerap berpesan agar aku selalu menjaga hubungan baik dengan semua saudara tiriku. Dan setiap ibu menyampaikan pesannya itu, aku selalu menganggukkan kepala sebagai tanda mengiyakan kata ibu.

Tapi aku tidak tahu, apakah ibu juga pernah menyampaikannya kepada masing-masing saudara tiriku perihal pesan itu. Sebab, setahuku, ibu tidak pernah mengucapkan pesan itu di depan kami.

Ibu memiliki anak tiga. Aku yang tertua dari dua saudaraku yang berbeda ayah itu. Kata ibu, ayahku adalah seorang pelaut. Kata ibu lagi, ayah juga pemabuk dan suka main judi. Ayah pergi meninggalkan ibu di saat aku baru berusia lima tahun. Kabar yang ibu dapatkan selanjutnya dari pelaut lainya adalah bahwa ayahku telah kawin lagi dengan seorang janda muda di pulau seberang.

Aku sendiri luput mengingat wajah ayahku sendiri serupa apa. Usiaku terlalu kecil untuk mampu mengingat kenangan bersama ayah. Apalagi memang ayah kuingat jarang pulang. Di dalam rumah kami yang sederhana, tak satu pun terpajang foto ayahku. Sampai usiaku dewasa, di rumah itu, yang terpajang hanya tiga bingkai foto, yang pertama foto ibu, lalu foto aku dan dua saudaraku dengan latar halaman rumah, dan yang ketiga foto ayah tiriku.

Baca juga: Penagih Hutang Bersepeda Kumbang – Cerpen Farizal Sikumbang (Kompas, 01 Oktober 2017)

Di masa sepeninggal ayah, ibu mengurusiku seorang diri. Untuk mencukupi kebutuhan ekonomi, ibu berjualan sarapan pagi di depan rumah kami. Para pelanggan ibu kebanyakan para lelaki yang bekerja sebagai pelaut dan penjual ikan. Bila pagi hari, aku sering kali mendengar para lelaki tertawa-tawa di kedai ibu dengan maksud yang tidak kupahami. Sebagian lagi berbicara dengan intonasi tinggi bila mereka berkomunikasi dengan lawan bicaranya. Terkadang bila dagangan ibu telah habis, beberapa pelaut bermain batu domino di kedai ibu.

Aku cukup terhibur dengan kehadiran para pelanggan ibu yang mayoritas kaum laki-laki itu. Tidak hanya candaan yang mereka berikan. Aku pun sering diberikan permen atau makanan ringan untuk seusiaku. Yang paling sering memberikan aku permen adalah Uda Bahar.

Advertisements