Cerpen Bia R (Pikiran Rakyat, 06 Januari 2019)

Di Sudut Kamar ilustrasi Syafa'at - Pikiran Rakyatw.jpg
Di Sudut Kamar ilustrasi Syafa’at/Pikiran Rakyat 

SETELAH memastikan teman-teman satu kamarnya tidur, Zain dan Buyung membuka lemari pakaian. Dua bocah sebelas tahun itu memasukkan pakaian ke dalam ransel. Zain, anak yang berwajah oriental diam sejenak, kemudian menatap Buyung.

“YUNG, sebaiknya kita tidak membawa apa pun selain lampu ini.” Zain mengacungkan untaian lampu hias.

“Memangnya kenapa?” Buyung menghentikan gerak tangannya yang tengah melipat sarung.

“Nanti Pak Ustaz curiga. Bisa gagal lagi kita,” bisikZain.

Setelah memperhatikan keamanan, dua bocah itu mengendap-endap ke luar asrama. Lingkungan asrama memang sedang sepi saat itu, karena sudah hampir tengah malam dan sedang musim liburan. Beberapa siswa dijemput orang tua mereka untuk berlibur bersama keluarga. Penghuni asrama menjadi berkurang. Bahkan hampir tiap hari, ada saja yang pulang.

Baca juga: Mahar Puisi – Cerpen Faris Al Faisal (Pikiran Rakyat, 23 Desember 2018)

Buyung dan Zain sudah tidak memiliki orang tua. Mereka dibawa ke yayasan sekolah islami itu sebagai siswa tidak mampu. Setiap musim liburan, mereka tak pernah pulang. Kecuali saat masih ada Daen.

Daen adalah teman mereka yang sama-sama sekolah dan mondok gratis di sana. Daen masih memiliki ibu dan seorang adik perempuan yang masih balita. Kondisi ekonomi keluarga mereka terbilang sulit, sehingga ikut mondok gratis di sana.

Dulu, Buyung dan Zain selalu ikut berlibur ke rumah Daen saat ibunya menjemput. Mereka selalu membujuk pengasuhnya untuk mengizinkan. Mereka berjanji tidak akan menyusahkan Ibu Daen. Di sana, mereka menghabiskan liburan dengan bermain di pantai, dan membantu ibu Daen berjualan.

Advertisements