Cerpen Ikhsan Hasbi (Serambi Indonesia, 06 Januari 2019)

Robin ilustrasi Tauris Mustafa - Serambiw.jpg
Robin ilustrasi Tauris Mustafa/Serambi Indonesia

PEREMPUAN itu menyentuh wajahku. Ia sudah tak mampu melihat. Rambut putihnya tergerai lurus. Ia meraba wajahku seakan sedang membaca huruf-huruf brailer yang timbul. Lelaki yang mengenakan jas di sisiku menjelaskan, bahwa perempuan itu kunci untuk mengenal pemuda yang mencuri data persekongkolan para koruptor yang melibatkan sejumlah petinggi negara.

“Kenapa aku?”

“Kami masih belum diizinkan menjawab pertanyaan itu.”

“Berarti kalian mencurigaiku.”

Mereka menunjukkan wajah tak mau tahu. Kata-kata yang dibatasi. Dan tatapan yang mengubur rahasia.

Hampir satu jam aku di ruangan itu. Di hadapan perempuan yang kukira mampu membaca kesanku.

“Bagaimana? Aku boleh pergi sekarang?”

“Perempuan itu belum menyatakan apa pun tentangmu.” Ia mengulurkan tangan. “Jessica. Panggil saja, Jess. Mohon kerjasamanya.”

Baca juga: Segelas Teh, Hujan, dan Patah Hati – Cerpen Zulfikar R H Pohan (Serambi Indonesia, 30 Desember 2018)

“Tapi tampaknya kalian yang tidak mau bekerjasama.”

Jess membeliak. Menyelidik maksudku.

“Kalian belum menjelaskan apa kaitanku dengan masalah ini.”

“Prosedural.” Ia memutar-mutar cincin di jemarinya. “Beberapa orang harus menahan diri. Pekerjaan menuntut hal semacam itu. terlalu memperturut kehendak bebas bukan cara kerja tim.”

Ia menawariku kopi.

Di balik jendela kaca, terlihat perempuan itu seperti pesakitan. “Gara-gara anaknya.”

“Hmm… dia adalah kunci. Seorang ibu pasti mengenal anaknya, dalam kondisi apa pun. Wajah, suara dan segala hal tentang anaknya tak ada yang luput. Saksi lain akan segera menyusul.”

Advertisements