Cerpen Seno Gumira Ajidarma (Jawa Pos, 06 Januari 2019)

Kyai Sepuh ilustrasi Budiono - Jawa Posw.jpg
Kyai Sepuh ilustrasi Budiono/Jawa Pos 

KYAI Sepuh bukan dukun, bukan tukang ramal, bukan pula tukang tenung. Kyai Sepuh hanyalah seorang pemain teater. Tepatnya bekas pemain teater yang mengalihkan kemampuannya berseni peran dari panggung ke dalam kehidupan sehari-hari.

Dari caranya bersikap, memainkan mimik muka maupun bahasa tubuhnya, dia berhasil memberi kesan bahwa dirinya betul-betul seorang manusia bijak. Terbukti dengan begitu banyak orang yang percaya kepadanya, tanpa kesadaran bahwa yang dipercayainya adalah suatu peran yang dimainkan.

Demikianlah berlangsung dari hari ke hari. Dan setelah bertahun-tahun, Kyai Sepuh akhirnya berhasil mengelabui dirinya sendiri. Betapa dia memang sebenarnyalah sungguh bijaksana, pandai, cerdas, dan berpengetahuan. Dia sungguh-sungguh mengira, dengan kepekaan yang dirasa-rasakannya saja, dapatlah dia menunjukkan kebenaran yang dicari semua orang. Apalagi sambutan orang-orang di sekitarnya pun serba membenarkannya.

Baca juga: Setan Banteng – Cerpen Seno Gumira Ajidarma (Koran Tempo, 22-23 Desember 2018)

Hanya saja Kyai Sepuh sudah mulai sakit-sakitan dan pelupa. Namun tiada seorang pun yang percaya. Kyai Sepuh sendiri memang tidak pernah memeriksakan sakitnya ke dokter. Karena ia berpikir jika dirinya berobat ke dokter dan darahnya diperiksa oleh laboratorium kesehatan, orang-orang tidak akan percaya lagi kepadanya.

“Masa orang pinter ke dokter,” itulah tanggapan yang dihindarinya.

Begitulah, semakin banyak saja orang yang datang minta petunjuk. Begitu banyak sehingga sudah tidak mungkin lagi dilayani satu per satu. Kerumunan di rumahnya begitu besar yang jika diurutkan dalam antrean akan menjadi terlalu panjang, yang dalam waktu 24 jam pun tidak akan berkurang karena orang-orang yang terus mengalir berdatangan.

Maka Kyai Sepuh memutuskan, penyelesaian masalah tidak akan dilakukan bagi setiap orang satu per satu, tapi secara borongan. Satu petunjuk untuk semua orang dengan penafsiran masing-masing.

***

Advertisements