Cerpen Yetti A. KA (Padang Ekspres, 06 Januari 2019)

klub pencinta binatang ilustrasi orta - padang ekspresw
Klub Pencinta Binatang ilustrasi Orta/Padang Ekspres

Kiara mengulurkan tangannya ke arah mulut seekor iguana. Mama menjerit dan segera menarik kembali tangan Kiara. Muka Kiara langsung pias dan ketakutan. Mama menggerutu. Ia menyesalkan keberadaan taman bermain warga yang berubah menjadi kebun binatang pada hari Minggu.

Papa muncul dari arah depan dan meletakkan sepedanya. Tubuhnya berkeringat. Baju bagian dadanya basah. Sebelum tiba di taman catur ini, Papa berkeliling gedung olahraga yang penuh sesak dengan para pedagang yang menjual segala macam sayuran, buah-buahan, makanan, sepatu, baju, dan tukang obat yang mengoceh tak henti. Susah payah ia menembus kerumunan orang untuk sampai di tempat Kiara dan mamanya menunggu.

Begitu melihat kehadiran Papa, Kiara mengangkat telunjuk, “Ada buaya, Papa.”

“Itu iguana,” sambar Mama, lalu menjelaskan beda iguana dan buaya. Ia tidak ingin anaknya salah paham dan bisa-bisa nanti dicap bodoh oleh orang-orang di sekeliling mereka.

Baca juga: Kami Naik Kereta Uap – Cerpen Yetti A. KA (Koran Tempo, 08-09 Desember 2018)

“Papa, itu ada buaya,” ulang Kiara. Ia tidak mendengar sama sekali apa yang mamanya katakan sebab ia begitu asyik memelototi buaya. Kalau diperhatikan buaya itu tidak seseram yang pernah ia lihat saat kunjungan ke kebun binatang bersama teman-teman TK-nya dan pada waktu itu ia diantar pengasuhnya karena mamanya harus kerja. Itu anak buaya, Kiara, kata pengasuh itu sambil mendekat ke kolam dangkal yang dihuni beberapa ekor buaya. Guru TK Kiara sibuk menjelaskan tentang buaya itu kepada anak-anak lain. Para orang tua yang mendampingi ikut memberi pengertian agar anak-anak tidak perlu takut kepada buaya itu. Manusia berteman baik dengan binatang, itu salah satu kalimat yang Kiara dengar di antara runtunan kalimat lain. Namun, kebanyakan anak-anak tetap saja takut. Selama ini, sebagian dari mereka hanya melihat gambar binatang-binatang itu di buku atau televisi. Kiara menyurukkan badannya di belakang tubuh pengasuh dan tidak berani melihat. Buayanya tidak menggigit kok, kata pengasuhnya lagi. Pelan-pelan Kiara memiringkan kepalanya dan sekilas saja melihat buaya itu. Panjangnya baru sekitar satu meter. Ia terdampar di pinggir kolam dangkal, mungkin sengaja berjemur. Mata anak buaya yang terlihat keras itu seolah menatap kepada Kiara. Seketika Kiara menarik kepalanya lagi dan kembali bersembunyi di balik badan pengasuhnya. Setelah ia masuk SD, Kiara tak pernah melupakan anak buaya itu. Kadang-kadang ia bermimpi tentangnya. Mereka memang tidak dapat menjadi teman, tapi Kiara tidak lagi takut menatap mata buaya itu di dalam mimpinya.

***

Advertisements