Cerpen Caroline Wong (Media Indonesia, 06 Januari 2019)

Kepada Siapakah Dia akan Menyusu ilustrasi Bayu Wicaksono - Media Indonesiaw.jpg
Kepada Siapakah Dia akan Menyusu? ilustrasi Bayu Wicaksono/Media Indonesia

AKU sendiri yang menjadi saksi atas kematian suamiku. Dengan malas maut menjemputnya. Kaki A Chun menjuntai santai di ranjang kayu. Hidup A Chun habis di kursi rotan reyot. Tidur siang. Teh oolong pekat di sore hari dan beberapa lembar biskuit gabin. Makan malamnya telur kukus dengan irisan daun bawang yang banyak. Sekali-kali ada daging cincang dalam kukusan telur itu. Begitulah dia hidup begitulah dia mati. Santai.

Aku juga sudah melihat maut menjemput kakak perempuanku. Maut yang sungguh kasar. Sesaat Daiyu seperti tertidur saja. Tapi beberapa hembusan angin berikutnya, keluar suara besar yang bising dari tenggorokannya. Seperti babi hutan betina yang melarikan diri dari kejaran panah pemburu.

Kematian berikutnya ialah kematian kakak lelakiku. Maut bermanja-manja dengannya, memberi sedikit harapan dan kemudian mengambilnya kembali. Terkatung-katung. Antara ada dan tiada. Badannya tergolek lemah selama bertahun-tahun. Maut akhirnya bermain serius dan sudi memberikan apa yang selama ini dipinta Kuen. Kematian menemaninya dengan sangat lembut. Kuen mati dalam tidurnya.

Baca juga: Mematikan Lagarise – Cerpen Caroline Wong (Media Indonesia, 16 September 2018)

Aku percaya di seberang langit biru selalu ada pelangi. Untukku sendiri. Untuk setiap dari kita. Entah bagaimana pelangi itu nanti akan menjemputku, tapi aku belumlah mau.

Aku bahkan bisa ikut merasakan, bagaimana maut yang keji mengintai anak perempuanku. Lanfen menghabiskan banyak hartanya untuk mengobati penyakit di usia tuanya. Sakit yang kata dokter karena kecapaian bekerja. Terlalu lelah dan terlalu sibuk.

Baca juga: Lelaki yang Kukira Kurang Berwarna – Cerpen Caroline Wong (Fajar, 06 Mei 2018)

Maut itu juga semakin bersemangat mengalir lewat anak-anak Lanfen yang selalu membuatnya gusar. Mereka gemar berfoya-foya. Bergaya orang kaya, garang, dan merasa diri paling hebat. Lanfen sepertinya mati cemas. Wajahnya tidak rela.

Kematian demi kematian berhamburan di udara. Saudara-saudaraku sudah usai. Anakku, Lanfen sudah pula melewatiku. Kemenakan-kemenakanku juga pergi satu per satu, berikut suami atau istri mereka. Pendeta dan istrinya, pemimpin puji-pujian, anggota paduan suara, pemain kulintang, dan petugas pengumpul kolekte. Semuanya lewat, whusss

***

Advertisements