Cerpen Sule Subaweh (Kedaulatan Rakyat, 06 Januari 2019)

kembang api ilustrasi joko santoso - kedaulatan rakyatw
Kembang Api ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat

“KURANG lebih ada dua puluh tiga angka yang merah di kalender tahun ini. Kita bisa merencanakan banyak hal,” sindir Ilil dihadapan suaminya yang sedari tadi hanya diam. Ilil sengaja tidak menghitung libur cuti bersama dan hari minggu dalam kalender yang dipegangnya.

“Rumah ini seperti kuburan jika sendirian,” rutuknya kemudian.

“Kalau aku tidak ambil lembur, percuma kita menyusun cita-cita. Ini aku lakukan demi cita-cita kita,” suami Ilil setengah berteriak.

“Aku bosan dengan alasan lembur, ada kunjungan, job mendadak dan lain sebagainya. Kamu bisa membuat alasan setiap kali diajak jalan di hari libur. Seharusnya kamu juga bisa memberi alasan pada pimpinanmu untuk menemaniku!” hardik Ilil.

“Aku tidak mau terus-menerus dicekoki janji dan alasan,” Ilil sedikit mengeraskan suara. Sudah lama dia menimbun kecewa atas janji suaminya yang menumpuk dan mulai mengancam kesetiaannya.

Baca juga: Pesan Kematian – Cerpen Sule Subaweh (Suara Merdeka, 01 Juli 2018)

“Itu bukan alasan,” kilah suami Ilil.

Setelah suami Ilil diterima bekerja, pasangan muda itu hampir tidak ada waktu untuk libur bersama atau sekadar belanja bersama. Merayakan hari pernikahan atau merayakan ultah Ilil seperti yang dilakukannya sebelum diterima di tempat kerja yang sekarang. Mereka bersepakat akan irit untuk membeli rumah sendiri. Setelah punya rumah, mereka ingin beli isi rumah, perhiasan dan, “setelah beli motor, kita beli mobil, biar tidak kehujanan dan kepanasan saat jalan-jalan,” Ilil mengangguk waktu itu.

“Aku tidak butuh semua ini,” Ilil membuka cincin, kalung, gelang, baju yang baru dibelikan suaminya. Dia letakkan semua barang itu di meja bersama barang-barang pemberian suaminya yang lain. Sekarang yang paling berharga bagi Ilil hanya ditemani, diajak bercanda atau sekadar minum kopi di luar seperti saat pacaran, dulu.

Advertisements