Cerpen Adi Putra Purnomo (Solo Pos, 06 Januari 2019)

dewi sri ilustrasi solo posw
Dewi Sri ilustrasi Solo Pos 

Tolong…. Tolong….. Tolong……!!!!

Tong tong tong tong tong…. tong tong tong tong tong….. tong tong tong tong tong…. suara kentongan saut-menyaut, berbunyi membelah pagi yang sunyi, warga kian banyak yang berlari menuju asal bunyi.

“Bagaimana kejadiannya?”

“Sama seperti yang kemarin. Sekarang sudah lima warga yang mengalaminya.”

“Apa ada yang melihat?”

“Tidak ada. Tiba-tiba sudah lenyap.”

“Mungkin serangan tikus?”

“Bukan! kalau tikus pasti batang jerami patah, namun ini masih utuh. Pasti wereng. Pasti!”

Hari itu di warung, di pasar, di sawah, di tempat menunggu anak sekolah, dan bahkan di emperan rumah, di mana pun orang berkumpul, mereka membicarakan tentang kehilangan. Terhitung sudah lima orang warga desa yang berjuluk “Lumbung Padi” itu kehilangan. Kejadiannya sama, tidak ada yang melihat, tiba-tiba sudah lenyap, padi yang menguning siap panen hilang seketika. Hanya tinggal jerami yang lapuk tanpa isi.

Baca juga: Lukisan Jembatan – Cerpen Alif Febriyantoro (Solo Pos, 12 Agustus 2018)

Luas wilayah desa tersebut hanyalah kecil dan berbentuk persegi. Sebagian besar dari luas wilayah tersebut adalah persawahan. Warga desa sebagian besar bekerja sebagai petani. Jika dilihat dari angkasa, di tengah desa berupa kumpulan rumah warga, dikelilingi hamparan sawah yang hijau kekuningan. Oleh sebab itu, desa tersebut dijuluki “Lumbung Padi”.

***

Embusan angin selatan terasa dingin menyentuh kulit. Pohon yang bergoyang bersorak berisik akibat daun dan ranting yang saling bergesekan tertiup angin. Semburat cahaya matahari memancar dari ufuk timur yang hangat membelah angin pagi musim kemarau yang dingin. Gumpalan awan hanya terlihat beberapa di langit. Beberapa warga berkumpul. Mereka membahas tentang kehilangan yang enam hari berturut-turut telah terjadi.

Advertisements