Cerpen Muhaimin Nurrizqy (Haluan, 06 Januari 2019)

danau kristal ilustrasi istimewaw
Danau Kristal ilustrasi Istimewa

Udara panas bercampur debu menerpa tubuh kami. Aku, Rola, dan Susan, terus berjalan di gurun luas itu. Jejak yang kami tinggalkan (kecuali Susan yang tidak memiliki jejak karena ia hanya tinggal kepala) segera hilang disapu angin. Di ujung pandangan aku hanya berharap perjalanan ini bukan kesia-siaan. Keyakinanku bertopang pada Rola yang mengatakan bahwa di suatu tempat di gurun itu ada Danau Kristal.

Aku seharusnya tidak percaya Rola begitu saja, perempuan yang kutemukan pingsan setelah memakan akar Dactyl (sepertinya ia tidak bisa membedakan akar Dactyl dengan akar Kernyptus), tapi aku tidak punya pilihan. Selain karena Susan beberapa saat sebelum mati juga mengatakan bahwa Danau Kristal itu ada. Semoga saja di perjalanan ini aku dapat menemukan baterai untuk Susan.

Aku merasa canggung dan tidak tahu harus berbuat apa tanpa dirinya. Semua yang ia ucapkan aku coba kumpulkan dan mengingatnya dalam kepala. Aku pikir dengan itu aku bisa bertahan hidup.

Bukit-bukit pasir berdempetan di sana-sini. Tidak ada apa-apa di gurun ini selain rumput yang tumbuh berkelompok di beberapa tempat dan pohon-pohon kecil yang gersang.

“Apakah ini arah yang benar, Rola?” tanyaku.

Baca juga: Kehancuran Bumi – Cerpen Muhaimin Nurrizqy (Padang Ekspres, 03 Juni 2018)

Rola membalikkan badan dan berhenti. Ia mengenakan kemeja tipis berwarna coklat muda dan celana katun pendek berwarna (mungkin) hijau tua, aku tidak tahu pasti karena celana itu pudar dan lusuh. Kulit tubuhnya tampak putih, bersih, dan bersinar. Sulit dipercaya ia masih mempunyai kulit seindah itu karena dari perkenalan awal Rola bilang sudah berada di gurun selama tiga puluh hari.

Iris matanya berwarna hijau saat diterpa sinar matahari. “Inilah arahnya. Kau harus percaya kepadaku… Oke?” Dari nada bicaranya aku menangkap keraguan. Kemudian Rola membalikkan badannya dan berjalan. Rambutnya yang keriting pirang itu bergoyang-goyang, seperti ombak.

Ia berjarak lima langkah dariku. Aku tidak ingin mengeluarkan suara yang sedikit keras karena hanya akan membuat kerongkongan kering dan aku bisa menghabiskan persediaan air yang ada, maka kupercepat langkah ke samping tubuhnya.

Advertisements