Cerpen Anas S. Malo (Rakyat Sumbar, 05-06 Januari 2019)

selametan ilustrasi rakyat sumbarw
Selametan ilustrasi Rakyat Sumbar

WALAUPUN aku tidak tahu maksud kakek mengatakan, bahwa orang-orang yang sudah mati akan pulang. Entah, fiktif atau nyata. Dan, aku percaya dengan hal itu. Ia berkata, “Orang-orang yang ada di kuburan akan pulang ke rumah masing-masing.” Tetapi, otakku belum mampu untuk mencerna ucapan itu, di kala usia menginjak lima tahun. Dan, pertanyaan yang memuat pikiran tidak tenang adalah, apakah ibu pulang dengan wujud hantu seperti film-film di tv atau seperti ibu yang dulu, cantik, penuh kelembutan dan kasih sayang?

Yang aku tahu, orang-orang akan sibuk dengan membuat berbagai hidangan untuk acara selametan. Entah, itu tumpeng atau nasi yang kemudian diletakkan ke dalam wadah untuk diberikan kepada tetangga yang berkumpul di salah satu rumah warga setelah mengadakan tahlil bersama. Pun ada juga dari sebagian orang di kampungku membuat sesaji lalu diletakkan di samping nisan. Dan lagi-lagi, aku masih belum bisa menafsirkan apa maksud dari semua itu. Hanya saja, aku lebih memperhatikan orang-orang yang membersihkan kuburan.

Biasanya akhir bulan mendekati bulan Ramadhan, orang-orang di kampungku mengadakan selametan atau bisa juga disebut dengan mapak. Tradisi Jawa yang kerap kali aku jumpai setiap tahun. Selametan itu biasanya dilaksanakan selesai shalat magrib. Orang-orang masuk ke rumahku.

Baca juga: Kambing yang Jatuh dari Langit – Cerpen Anas S Malo (Media Indonesia, 26 Agustus 2018)

Malam itu orang-orang masuk ke rumah kakek. Sebagian dari mereka masih ada di luar. Terpancar wajah riang, sesekali bercanda tawa seakan tak ada lagi beban hidup. Dan kakek sibuk berjabat tangan dan mempersilahkan masuk dengan mereka. Aku duduk di kursi di samping tv hitam putih. Dan aku melihat mereka bertegur sapa.

Dalam kesendirian batin, aku selalu bertanya-tanya, “Mengapa ibu belum datang juga?”

Aku hanya bisa menunggu kedatangan ibu. Mungkin, barangkali setelah acara ini selesai, ibu akan datang dengan membawa pakaian lebaran, dan membawa petasan kesukaanku, seperti tahun-tahun sebelumnya. Biasanya ibu mudik lebih awal, dengan alasan biar bisa di rumah lebih lama. Tetapi acara tahlil bersama selesai, ibu belum muncul. Alasan mengapa aku selalu menunggu kedatangan ibu, karena kata kakek, orang yang mati akan pulang malam ini.

Advertisements