Cerpen Rosyid H. Dimas (Koran Tempo, 05-06 Januari 2019)

memoar sebuah pasola ilustrasi imam yunni - koran tempow
Memoar Sebuah Pasola ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo 

Apa yang kau tuntut dari sebuah kematian yang sudah direncanakan oleh leluhur, Todha? Hampir sebulan lamanya aku berusaha menahan diri dan diam seperti batu berlumut. Aku berusaha menganggap semua bualan yang kau katakan kepada orang-orang desa sebagai gelombang pasang yang akan hilang dengan sendirinya. Tapi ternyata aku salah. Ocehanmu itu seperti derap kaki kuda yang selalu timbul di tanah Sumba. Dan aku bukanlah leluhur yang memiliki kesabaran seluas lautan, Todha. Aku hanyalah manusia biasa yang memiliki batas-batas kesabaran sepertimu. Maka, atas saran Rato [1] Muana, hari ini kuputuskan untuk menemuimu.

Sebagai penganut Marapu [2], seharusnya kau mengerti bahwa segala yang terjadi di dalam pasola [3] adalah murni kehendak leluhur. Tak terkecuali kematian suamimu, Nono Malo. Apa yang menimpanya adalah takdir yang tak bisa dihindari. Dan bukankah Rato Muana juga sudah mengatakan kepadamu bahwa kematian Nono karena kesalahannya sendiri, karena ia telah merebutmu dariku? Karena dalam kepercayaan kita, apabila seseorang mati dalam pasola, berarti leluhur sedang menghukum kesalahan orang tersebut. Lalu, mengapa kau menyalahkanku atas kematiannya?

Diam, Todha. Jangan kau potong bicaraku. Biarkan aku-kali ini saja-memberi penjelasan kepadamu. Aku harus menunaikan saran Rato. Setelah aku selesai, terserah, kau boleh mengatakan apa pun tentangku.

Baca juga: Orang-orang yang Jatuh dari Langit – Cerpen Rosyid H. Dimas (Solo Pos, 05 Agustus  2018)

Apakah dengan luka yang menganga di dadaku karena pengkhianatanmu masih belum cukup, sehingga kau mencaciku di hadapan orang-orang desa dengan menyebutku sebagai pembunuh, Todha? Tidakkah kau pernah memikirkan bagaimana perasaanku ketika mendapat kabar bahwa kau telah berbuat serong dengan Nono? Saat kabar perselingkuhan kalian sampai ke telingaku, aku segera mengemasi barang-barang dan meminta izin kepada mandor untuk pulang ke Sumba. Kepadanya kukatakan bahwa salah seorang keluargaku meninggal. Kau tahu, aku terpaksa berbohong, Todha. Padahal, berbohong bagiku adalah sesuatu yang nista. Aku terpaksa melakukannya demi bisa bertemu dan mendapat penjelasan darimu.

Advertisements