Cerpen Adam Yudhistira (Padang Ekspres, 30 Desember 2018)

Tuah Tanah Kuburan ilustrasi Orta - Padang Ekspresw.jpg
Tuah Tanah Kuburan ilustrasi Orta/Padang Ekspres 

Malam sebelum esok paginya pemilihan kepala kampung digelar, diam-diam Bahar telah mendatangi kediaman Engku Hamid. Ia datang membekal segepok tanah yang baru saja diambilnya dari kuburan. Tanah itu ia bungkus dengan sehelai kain putih dan rencananya akan diritualkan oleh Engku Hamid—dukun ilmu hitam paling kesohor di kampung Tanjung Jati.

TANAH ini akan menutupi keberuntungan Sobari,” kata Engku Hamid dengan suara berat yang menyeramkan. “Orang-orang akan membenci dan tak akan menjatuhkan pilihan kepadanya.”

Perkataan lelaki tua itu membuat senyum gembira membersit di bibir Bahar. Sungguh tidak ada hal lain yang paling diinginkan lelaki berperut buncit itu selain menjadi kepala kampung. Untuk ambisinya itu ia sampai rela melakukan segala cara, dari membagi-bagikan uang sampai melakukan hal-hal yang berbau klenik; bersekutu dengan Engku Hamid, lelaki tua yang terkenal sebagai dukun ilmu hitam di kampung Tanjung Jati.

“Kau pasti menang,” ucap Engku Hamid tenang. “Tidak ada yang bisa menggagalkanmu sekarang.”

Bahar mendesah pelan, di dalam hatinya masih terselip sedikit keraguan. Lantas dengan nada takut-takut ia berkata, “Kudengar masih banyak yang simpati padanya, Engku. Aku bisa terima jika aku kalah dari orang lain, tapi tidak dari Sobari.”

“Jangan khawatir. Aku sudah membungkamnya,” ujar Engku Hamid sambil menepuk-nepuk pundak Bahar. “Sobari tak akan berkutik. Aku jamin, kaulah yang akan menang.”

Mendengar jawaban itu, Bahar menyeringai. Ia merasa lega dengan jawaban Engku Hamid. Bahar sudah membayangkan, besok pagi ia akan diarak dan dielu-elukan di sepanjang jalan kampung untuk merayakan kemenangan. Tentulah saat itu ia akan menikmati betul raut kecewa di wajah Sobari.

“Ayo kita mulai sekarang, Engku. Ini sudah hampir tengah malam.”

Lelaki tua itu mengangguk, dan sesaat kemudian bibirnya mulai berkomat-kamit, merapal mantra sembari sesekali meniup bungkusan tanah kuburan pemberian Bahar. Sekira lima menit kemudian, Engku Hamid menghentikan rapal mantranya. Ia menyodorkan bungkusan itu kembali kepada Bahar.