Cerpen Zulfikar R H Pohan (Serambi Indonesia, 30 Desember 2018)

Segelas Teh, Hujan, dan Patah Hati ilustrasi Tauris Mustafa - Serambi Indonesiaw

Segelas Teh, Hujan, dan Patah Hati ilustrasi Tauris Mustafa/Serambi Indonesia

Agustus 2018

AKU sama sekali tidak mencintaimu, mungkin sangat berat mengatakan ini. Mengingat kisah panjang kita yang hampir tiada cacat. Tapi, lebih berat lagi ketika kukatakan aku mencintaimu, namun itu malah membuat kita terluka. Luka yang berkali-kali kita garuk dengan angkuh. Sebab kita tahu hubungan kita hanya sampai di selokan. Kita hanya bisa terkapar setelah mengucapkan cinta, dan berjanji tak saling meninggalkan. Saat itu pula kita sadar, kita memang harus saling melupakan dan meninggalkan.

Kenyataannya kau telah memilih lelaki yang lain, kau memilih untuk patuh pada posisimu, dan tak membangkang pada orangtuamu, kau memilih untuk berkata ‘iya’ kepada kondisi yang memaksamu untuk berlari dari otak dan hatiku. Kau, dalam artian yang lebih berbahaya mampu memilih untuk meninggalkanku, lantas memberikanku semacam fatamorgana bahwa kita akan hidup bahagia sampai pada saat nanti meteor menghantam bumi, lalu kita mati di pinggir pantai saat menikmati matahari tenggelam yang sebenarnya adalah meteor yang jatuh.

Baca juga: Cerita Lama – Cerpen Riyon Fidwar (Serambi Indonesia, 23 Desember 2018)

“Kita lantas memilih untuk mati,” katamu tiba-tiba.

Aku tahu, hidup tak memberikanmu pilihan, hidup tak pernah semudah jatuh cinta. Namun, jatuh cinta juga tak pernah memberikan kita hal yang mudah dalam hidup. Kita mesti berjuang untuk merasa tetap jatuh cinta, bukan?

“Apa yang bisa kuperjuangkan untuk mengagalkan pertunanganmu?” tanyaku mendesak.

“Tidak ada,” katamu datar.

Advertisements