Cerpen Musthain Asbar Hamsah (Fajar, 30 Desember 2018)

Pilihan Ketiga yang Diambil Lelaki Tua ilustrasi Fajarw.jpg
Pilihan Ketiga yang Diambil Lelaki Tua ilustrasi Fajar

Di beranda rumah panggung khas Bugis, selepas menerima panggilan telepon, seorang berkopiah hitam terduduk. Sorot mata lelaki tua itu tajam. Seolah ada benda di atas sana yang ia pandangi lekat-lekat. Beberapi kali ia menghela nafas, coba menenangkan diri. Bahkan riuh anak kecil di jalan depan rumahnya sama sekali tidak menarik perhatiannya.

Lelaki tua itu pun beranjak dari tempat duduknya. Ia melangkah perlahan di atas lantai kayu yang berderit setiap kali kaki memijak. Bila orang lain yang berjalan di atas rumah lelaki tua itu, mungkin saja orang itu akan bergidik ketakutan, was-was. Bagaimana tidak, lantai rumah itu sudah tidak kokoh lagi. Ruas-ruas bekas santapan rayap telah tampak di sana sini. Jika kaki terlalu kuat berpijak atau kalau sengaja ditekan kuatkuat, maka akan terdengar bunyi kreks! Seperti suara kerupuk atau wafer saat pertama kali dikunyah.

Rumah penggung miliknya memang sudah tua. Ia membangun rumah itu ketika usianya hampir mencapai kepala tiga, saat usia pernikahannya baru berjalan dua tahun, juga selepas pemilihan umum yang hanya diikuti tiga partai. Kini, setelah lima kali pergantian presiden dan buah hati semata wayangnya telah dewasa dan sudah pergi merantau, rumah kayu itu masih bertahan tanpa pernah dipugar sama sekali.

Sedari tadi, lelaki tua itu keluar dari rumahnya. Di perjalanan, ingatannya tentang bagaimana rumah itu dibuat sekelabat muncul. Ketika itu, selama setahun, ia bersama tujuh temannya merambah hutan guna mencari pohon bitti, pohon amara dan pohon jati. Berbekal dua gergaji besar, empat kapak dan tujuh parang, mereka menebang lalu membuat kayu dari pohon-pohon itu menjadi tiang, balok dan papan. Berkat kerja kerasnya itu, ia berhasil mengumpulkan sejumlah tiang kayu, balok dan papan yang dibutuhkan oleh sanro, panrita dan panre bola untuk membuat rumah.

Lalu ingatan lelaki tua itu buyar, tatkala ia tiba di depan rumah Petta Desa. Sendal jepitnya pun ia buka. Kakinya meniti tangga, menapak menuju pintu rumah. Tidak lama setelah mengetuk pintu dan memberi salam, dari dalam rumah, seorang menjawab salamnya dan bergegas menuju teras rumah tempat lelaki tua tadi menunggu. Basa basi pun diumbar setelah mereka berdua berjabat tangan. Kemudian lelaki tua itu mulai menyampaikan maksud dan tujuannya.