Cerpen Zainal A Hanafi (Media Indonesia, 30 Desember 2018)

Meminta Kado Malaikat pada Ibu ilustrasi Bayu Wicaksono - Media Indonesiaw.jpg
Meminta Kado Malaikat pada Ibu ilustrasi Bayu Wicaksono/Media Indonesia 

AKU ingin tahu berapa umur malaikat di tahun ini? Kalau tidak keberatan, bisa tidak ibu katakan berapa umur malaikat?

Ibuku hanya diam. Memperhatikan aku yang sedang bingung. Matanya menyimpan rahasia. Dia selalu menampakkan mata yang indah. Seakan kunang-kunang singgah di matanya.

Mata yang indah dan rahasia telah aku rebut dengan sebuah tanya yang tidak bisa ibu jawab. Bagaimana aku bisa menjadi anak yang patuh jika seperti itu. “Nak, malaikat itu diciptakan dan diberikan tugas khusus. Mereka bukan laki-laki dan juga bukan perempuan. Yang jelas Tuhan menciptakan malaikat sebelum menciptakan manusia.”

Aku tidak percaya kata-kata ibu. Aku ingin bukti. Bukti yang bisa membuat aku percaya dan tak bertanya lagi. Aku akan menunjukkannya kepada bapak. Kata orang-orang, nyawa bapak dicabut malaikat. Tapi, bapak kok justru menyuruh malaikat untuk menjagaku.

***

Tepat di ulang tahunku yang kesembilan, ibuku bertanya. “Nak, tahun ini kamu minta kado apa?” Aku langsung ingat malaikat. Sebelum detik-detik bapak meninggal di rumah sakit, tempatnya dirawat karena kecelakaan, ia bilang kepadaku, “Jika aku tiada. Nanti ada ibumu dan malaikat yang menjagamu, nak. Bapak harap kamu jadi anak yang baik dan patuh.” Begitu ucapnya. Setelah itu bapakku meninggal.

Kejadian itu membuat ibuku tak masuk bekerja selama satu minggu. Memikirkan bapak yang sudah tak lagi bersama-sama. Tak lagi menikmati hari raya Lebaran dengan naik delman istimewa, yang kata kusirnya, delman itu milik orang Belanda. Aku senang naik bersama-sama. Aku selalu duduk di pangkuan bapak sambil melihat ekor kuda yang berkibas-kibas.

“Aku ingin memberikan kado untuk malaikat, bu. Kapan malaikat ulang tahun?”

“Ah itu kado yang rumit sayang. Ibu kasih kamu kado apa aja asalkan tidak meminta itu.” Raut wajah ibuku berubah. Ibu sedih melihat permintaanku itu. Aku juga ikut sedih. Tapi, aku ingin bertemu dengan malaikat. Aku ingin menanyakan akan kupanggil apa dia nantinya, om apa tante? Tapi, itu tidak penting. Aku hanya ingin tahu seperti apa orang yang bernama malaikat itu.

Advertisements