Cerpen Risda Nur Widia (Suara Merdeka, 30 Desember 2018)

Membunuh Iblis pada Malam Tahun Baru ilustrasi Suara Merdekaw.jpg
Membunuh Iblis pada Malam Tahun Baru ilustrasi Suara Merdeka 

1. Cara Mengusir Iblis

Ada dua iblis di dalam rumahmu. Iblis-iblis itu terlihat mengerikan. Iblis-iblis itu memiliki taring-taring tajam, mata besar warna merah, serta jari-jari kasar dan berkuku runcing. Iblis-iblis itu selalu bertengkar dan mencaci-maki apa pun yang melintas di kepala mereka. Terkadang kau sering terkena damprat amarah kedua iblis itu. Mereka, apabila sudah tersulut emosi, akan mencaci-maki atau memukulimu. Maka, karena tidak ingin terkena tulah dari kutukan dua sosok mengerikan itu, setiap kedua iblis itu bertengkar, kau selalu menyalakan petasan.

Itu sering kau lakukan sejak dahulu. Pertama yang melakukan adalah kakekmu. Pria itu meyakini petasan dapat mengusir iblis. Kau pun demikian. Kau percaya petasaan yang kausulut dapat mengusir iblis-iblis, yang bersemayam di dalam rumahmu itu, pergi jauh. Suara petasan yang keras mampu menakutnakuti iblis-iblis itu, sehingga akhirnya kau tak lagi menjadi tempat amukan kedua iblis laknat itu. Malam ini pun, seperti malam lain, dua iblis itu kembali bertengkar. Mereka tidak lelah meributkan hal-hal yang sebenarnya sangat sepele.

“Hari ini pasti kau selingkuh!” kata iblis jantan. “Maka kau pulang malam lagi.”

“Kau yang main serong dengan perempuan-perempuan tak tahu diri itu!” dengus iblis betina.

“Dasar keparat!”

Suara tamparan terdengar seiring denting lonceng gereja di ujung gang kampungmu. Kau, karena tak mau terlibat, termenung di serambi rumah seraya menggenggam sebuah petasan. Suara kedua iblis itu semakin kencang. Dan ketika bendabenda, berupa kaca atau benda padat lain berbenturan, itu pertanda bagimu untuk menyalakan petasan. Suara petasan akan mengaburkan suara para iblis. Paling tidak kau tak mendengar lagi gerutu atau dengus laknat para iblis dari dalam rumahmu. Begitulah. Setiap pertengkaran dua iblis itu memuncak, kau menyulut petasan. Yang lebih penting lagi, suara petasan yang memekakkan telinga dapat menghentikan pertengkaran dua iblis itu.

Karena ulahmu menyalakan petasan, mereka mencarimu. Mereka memanggil-manggilmu.

“Lastari!” panggil iblis betina itu. “Di mana kau, Lastari!”

Advertisements