Cerpen Saleojung (Pikiran Rakyat, 30 Desember 2018)

Menjelajah Waktu ilustrasi Rizky Zakaria - Pikiran Rakyatw.jpg
Menjelajah Waktu ilustrasi Rizky Zakaria/Pikiran Rakyat

MARNI mendayung perahu kecilnya lebih jauh. Air kembang berwadah mangkuk perlahan ia percikkan pada keluasan samudra. Warna air laut tampak jernih. Cahaya rembulan malam itu sempurna membuat air laut berwarna keemasan. Segalanya tampak berkilau. Pernak-pernik beberapa lampu perahu terlihat seperti kawanan kunang-kunang di tepian pantai. Tak ada ombak. Laut begitu tenang. Desir angin mengalun lirih.

MARNI terus mendayung perahu kecilnya ke tengah samudra luas itu lebih jauh. Perahu kecil yang hanya cukup menampung dua orang itu ia kayuh sendiri.

Tak lama kemudian, kira-kira dari jarak tiga puluh meter jauhnya dari tepian pantai, ia berhenti. Ada rasa takut yang tiba-tiba menghampiri dirinya. Bukan karena tengah malam, tapi ada hal lain yang membuatnya harus berdiam dan menyelam kembali ke dalam ingatannya. Dari atas perahu kecil yang ditungganginya, perempuan itu menatap jauh keluasan samudra. Tak ada satu pun sesuatu yang bisa ia tangkap dari pandangannnya, selain kekosongan. Sesekali sorot matanya menabrak sebuah kapal besar yang mendarat di kejauhan sana. Tapi bagi Marni, itu tetap sebuah kekosongan. Kapal pengangkut barang-barang. Begitu yang ia ketahui. Entah sudah berapa malam kapal besar itu mendarat di kejauhan sana. Sebagai perempuan yang tak pernah bepergian lintas pulau, ia tidak begitu tahu tentang hal itu.

Marni hanya mendayung dan memutar­mutar perahu kecilnya di antara jarak tiga puluh meter jauhnya dari tepian pantai. Ia tidak tahu ke arah mana lagi perahu itu akan ia kayuh. Sudah genap empat puluh hari kematian suaminya, Marto. Namun, sampai saat ini mayatnya tidak juga ditemukan. Berbagai pencarian pun sudah dilakukan, tapi tidak juga membuahkan hasil. Marni tidak ingin bila dirinya juga ikut tenggelam di tengah keluasan samudra itu jika ia terus mendayung perahu kecilnya lebih jauh ke tengah. Laut ini hanya akan melenyapkan nayawaku. Gumamnya, lirih.

Marni kembali memercikkan air kembang berwadah mangkuk itu dari atas perahu kecilnya. Langit bersih, cahaya bulan masih sempurna menerangi air laut dengan warna keemasan.

“Bila laut sepenuhnya kuburmu, haruskah aku mengarungi samudra luas ini lebih jauh, sementara aku tidak pernah tahu, di laut mana engkau tiada.”

Advertisements