Cerpen Faiz Adittian Ahyar (Jawa Pos, 30 Desember 2018)

Kopiah Kiai Dullah ilustrasi Erie Dini - Jawa Posw
Kopiah Kiai Dullah ilustrasi Erie Dini/Jawa Pos 

“SIALAN!”

“Kutu busuk memang!!!”

Jebul mengoleskan obat gatal di sekitar selangkangannya yang bernanah. Kulitnya kemerah-merahan dan ujung kukunya sampai menghitam. Sebagian daki di sekitar selangkangannya yang lembap masuk di sela-sela kuku. Jebul ingat betul perkataan mantri Sukemi yang tadi malam memberinya obat. Dari beberapa pertanyaan yang muncul dalam dirinya, Jebul ingat petuah mantri Sukemi untuk segera mengakhiri kisahnya dengan para perempuan. Sudah puluhan tablet peredam rasa nyeri masuk ke dalam perutnya. Tak ketinggalan salep dan segala macam antiseptik telah melumuri kulit selangkangannya yang lembap.

Beberapa makanan yang disajikan sama sekali tidak menarik baginya. Sejak kemarin perutnya kosong, tak ada yang bisa membangkitkan nafsu makannya. Karena itulah tubuhnya hanya mampu berbaring di kasur tipis. Matanya memerah seperti orang mabuk, pandangannya kabur, badannya demam, dan tenggorokan serasa ada yang mengganjal. Semalaman Jebul tak henti-hentinya mengurus selangkangannya yang tak beres. Sebab, beberapa hari kemarin, ia meniduri Darsih. Jebul sama sekali tak menyangka bahwa Darsih telah terinfeksi bakteri Treponema pallidum.

Wanita tua yang ia temui di depan gedung bioskop saat dini hari itu begitu mudah ia rayu. Usianya sekitar 40 tahun. Sebagian rambutnya sudah beruban dan cerah wajahnya telah pudar. Parasnya sudah tidak terlihat cantik. Namun, kebiasaan meniduri wanita membuat Jebul tergoda kepadanya dan tanpa basa-basi Jebul langsung mengajaknya tidur. Tentunya dengan bayaran yang murah. Selang tiga hari, muncullah kekacauan yang membuat ia mengurung diri. Terlebih mantri Sukemi yang sangat tak acuh kepadanya. Suatu ketika Jebul memeriksakan kegatalan yang membuatnya naik pitam.

Pintu diketuk. Sore itu mantri Sukemi libur praktik di rumah kediamannya yang berada di ujung desa. Jebul duduk di kursi panjang berwarna putih. Kembali ia ketuk pintu. Tak didapati mantri Sukemi yang sore itu tengah pergi ke kota. Pakaiannya lusuh, dibalut jaket hitam tebal bertulisan merek sepeda motor. Celana yang ia kenakan penuh dengan sobekan dan kelihatan kumal.

Advertisements