Cerpen Faiz Adittian (Kedaulatan Rakyat, 30 Desember 2018)

Kembang Api ilustrasi Joko Santoso - Kedaulatan Rakyatw.jpg
Kembang Api ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat

SEMUA orang bahagia. Kembang api disulut di tepian pantai. Mereka semua bersorak di atas pasir putih. Seorang bule hanya memakai celana. Sedang kekasihnya memakai baju setengah dada. Mereka berpesta, laiknya engkau baru saja diangkat menjadi manager, atau bahkan orang tua pacarmu baru saja merestui hubunganmu. Semua bersorak luar biasa meriah. Tentu rezeki nomplok bagi pedagang. Di akhir tahun seperti ini, cuaca tak bisa ditebak. Hujan kadang-kadang datang pagi-pagi sekali. Wisatawan yang berkunjung, menjadi tak tentu. Padahal saat ini adalah musim liburan. Permasalahan baru muncul lantaran sulitnya memutar uang setoran. Beruntung, malam penghujung tahun, cuaca begitu mendukung. Entah itu mendukung turis-turis yang sengaja datang dari negeri jauh ke sini, atau mendukung perayaanmu atas kegembiraan atas jabatan baru dan tunjangan akhir tahun, bisa pula dukungan kepada para pedagang di sepanjang pesisir.

Sungguh tak masuk akal. Semua rela demi kembang api. Sepanjang jalan adalah bunyi klakson dan antrean mobil. Tak sedikitpun bisa bergerak. Diperkirakan sepanjang 5 kilometer, mengantre ribuan mobil, bus, dan bahkan truk yang mengangkut logistik. Seperti ular panjang yang tak kau ketahui bagian kepala dan ekornya. Pintu masuk tak dijaga petugas, mereka menyerah. Kewalahan mengatur deretan mobil yang tak bisa masuk ke dalam pantai.

Di pinggiran jalan, bocah berjualan minuman dingin. Seorang bapak kulihat menggendong bayinya, sembari berjualan ketupat sayur. Rezeki pula bagi bayi yang mungkin baru lahir beberapa bulan yang lalu ditinggal mati ibunya. Semua bersorak sebagai perayaan kemenangan. Mungkin akan ada kegembiraan yang melebihi percikan kembang api yang disulut tepat jam duabelas nanti. Dari Pak Bupati, Gubernur, tukang sapu, pedagang, anak muda, dan siapapun bersorak bersama-sama. Menghitung mundur angka, dan perayaan dimulai.

Namun tak diduga. Semua memang bisa saja datang secara tiba-tiba. Nyala kembang api yang begitu meriah, seperti siang yang kulihat begitu terang. Di tengah laut tepatnya, kulihat sesuatu yang teramat besar dan terlihat mengerikan. Menggulung kapal-kapal yang tengah berlayar. Air perlahan naik.

Advertisements