Cerpen M. Arif Budiman (Radar Banyuwangi, 30 Desember 2018)

Dendam ilustrasi Radar Banyuwangi.jpg
Dendam ilustrasi Radar Banyuwangi 

BERULANGKALI Sakri mendayung, berulang kali pula ia dihempas gelombang. Mesin perahu tak dapat lagi menyala, sebab ombak berulang kali mengguyurnya. Laut dilihatnya telah bergejolak. Petir telah menyeru badai. Pada sangka Sakri, takdirnya hanya sampai di situ. Hidup dari kasih laut, mati pun terkubur dalam laut. Hingga tanpa ia sadari, gelombang besar datang dan menggulung perahunya dari belakang hingga terbalik.

***

Gerimis masih mencericis, ketika Sakri melangkahkan kakinya menelusuri jalan-jalan becek Kampung Tanjung. Sebuah kampung nelayan kumuh tempat ia dibesarkan dan dididik dari tangan-tangan aroma anyir ikan. Pada pundak kirinya terkalung pukat, sementara tangan kanannya menggenggam lampu petromaks.

Sakri berharap, Tuhan hari ini akan iba dengan menyangkutkan beberapa ekor ikan pada pukatnya. Maka, ia akan segera menjual ikan-ikan hasil tangkapannya ke pasar, dan uang hasil penjualannya akan ia belikan beras. Sebab beras dalam ember tinggal menyisakan beberapa genggam saja.

Sih, adik perempuan Sakri, bukannya tak khawatir. Berulang kali ia mengingatkan kakaknya untuk tak melaut, sebab musim sedang tak bersahabat.

“Mas, tunggulah dua-tiga hari lagi. Barangkali ombak tak seganas sekarang. Aku tak mau kamu tergulung ombak dan mati sia-sia,” pinta Sih memelas.

“Tak ada yang sia-sia bagiku, Sih. Selagi halal, aku rela melakukan apa saja jika yang aku perbuat untuk memenuhi kebutuhan kita sehari-hari,” sahut Sakri sembari menyiapkan pukat.

“Tapi, Mas. Pekan ini sudah lima tetangga kita hilang tergulung ombak. Mayatnya sampai sekarang tak juga kembali. Aku hanya tak ingin kamu bernasib sama seperti mereka,” ucap Sih.

“Sudahlah, Sih. Hari semakin larut. Takutnya hujan turun semakin deras, dan ombak semakin besar. Aku berangkat dulu.”

“Iya,” jawab Sih, lirih.

Sih tak sanggup mencegah kakaknya. Hati Sakri telanjur teguh.

***

Advertisements