Cerpen Alifah Yasmin (Republika, 30 Desember 2018)

Aku Anak Millenial ilustrasi Rendra Purnama - Republikaw.jpg
Aku Anak Millenial ilustrasi Rendra Purnama/Republika 

‘Tik..tik..’. Waktu berdetak. Bergerak perlahan. Pasti. Teratur dan rapi. Tak melewati satu sama lain. Senada embusan angin yang bergerak menghempas sudut malam. Berbisik, mentari datang. Sebagian terjaga, bersenandung dengan Tuhan Pencipta Alam. Dedaunan bergoyang, hewan malam mulai terlelap. Kicau burung menghias cakrawala, langit hitam bergeser perlahan, elok garis kuning kemerahan guratan keindahan lukisan Sang Agung. Panggilan-Nya bertalu. Menyadarkan mereka akan Sang Pencipta.

Semburat cahaya merayapi penjuru langit biru muda. Dia memasukkan siang ke malam, malam ke siang. Lantunan ayat-Nya bersahutan. Nyaring atau tidak. Malaikat senang mendengarnya.

Shubuh bernapas. Cahaya hangat menghipnotis manusia untuk bangkit. Saluran air dinyalakan kencang. Bak penuh terisi air. Deru ketel berteriak, teko siap diisi. Pedagang mengisi sudut pasar. Bersahutan menawarkan dagangan.

Asap dapur mengepul. Sarapan tersedia. Sembari berberes peralatan sekolah, atau rangkaian data tugas karyawan, setumpuk tugas presentasi dosen tercinta untuk para mahasiswa. Penjaja koran beroperasi. Mengirim berita, informasi terkini, penting, mendidik, atau sekadar humor penghibur hati. Petugas kebersihan menyingsing lengan baju, menyibukkan diri dengan dedaunan berguguran. Jajaran toko mulai membuka gerbangnya, bersiap menyambut dengan wajah ceria nan ramah. Selusur jalan mulai dijejali ragam manusia. Beroda dua, tiga, empat, atau bahkan dengan kakinya sendiri. Kesibukan menggerayapi.

Begitu pula lelaki itu. Di kursi putar kebanggaannya yang berada di lantai 24 gedung kantornya. Gedung pencakar langit, bukan gedung biasa. Dengan ragam bilik di sana, anggap saja seperti Grand Mall. Tak di mungkiri sepasang sandal bisa seharga seekor kambing kurban. Macam fasilitas, fashion, official & marketting, cosmetics, hitech. Terbilang, kantor ini pusat dari segalanya. Meski harga setinggi langit ketujuh, tak sedikit yang mengadu hidup atau sekadar mengunjungi. Mencuci mata.

Lelaki muda itu terduduk di atas kursi putar kebanggaannya. Dengan jas parlente, dasi berkelas melingkar di leher menunjukkan kualitas materi. Intan & berlian melingkar, menunjukkkan elitenya jenis manusia satu ini. Tak hanya fisik, membuat kaum hawa melirik bahkan tertarik. Ragam prestasi tampak di mata orang. Sikap tegas, luas pergaulan, senyum menawan. Siapa tak tertarik dengan spesies sepertinya? Belum lagi nilai plus darinya, wajah tampan nan menarik, guratan kedewasaan terlukis di sana. Tak terhitung, banyak mitra kerja ingin menjadikannya calon kepala keluarga atau bahkan menantu idaman.

Advertisements