Cerpen Kiki Sulistyo (Koran Tempo, 29-30 Desember 2018)

Rambut Api Pamela Paganini  ilustrasi Koran Tempow.jpg
Rambut Api Pamela Paganini ilustrasi Koran Tempo

Aku menatap jendela dan melihat seekor serangga terperangkap pada kasa. Suara denging serangga itu sampai ke telingaku. Konon, ketika satu indra kita matikan, indra yang lain akan menjadi lebih tajam. Karena itu kupejamkan mata, kukerahkan konsentrasiku meresapi bunyi denging itu. Tidak. Itu bukan bunyi denging serangga. Itu bunyi gesekan biola.

Gesekan biola dari tahun 1792, ketika Alessandro Rolla melihat lelaki kecil itu memainkan satu komposisi yang menggetarkan sarafnya. Rolla memejamkan mata, seperti aku memejamkan mata. Rolla mendengar gesekan biola, seperti aku mendengar denging serangga. “Bocah,” kata Rolla. “Tuhan telah memberikan cahaya-Nya untukmu. Aku tidak pantas menjadi gurumu,” Lalu ia menjura di hadapan bocah yang terheran-heran itu.

Baca juga: Patung Batu Merah – Cerpen Kiki Sulistyo (Koran Tempo, 21-22 Juli 2018)

“Saya tidak bisa main biola. Main gitar bisa, tapi begitulah, pas-pasan,” katanya, lalu tertawa. Aku membuka mata. Ia masih berada di sana, sekitar dua meter dariku. Duduk di lantai dengan punggung menempel dinding. Aku merasa ia bisa membaca pikiranku, setidaknya ia tahu apa yang aku pikirkan. “Bagaimana kau tahu aku sedang memikirkan biola, aku tidak bertanya soal itu,” kataku. Ia kembali tertawa sembari menggerakkan bahunya. Di parasnya ada bayangan aristokrasi, tapi rambutnya membakar bayangan itu seperti api abadi. Kontras yang membuat kata-katanya terdengar seperti batang yang merendah lantaran sarat buah. Aku tahu, ia juga bisa memainkan biola. Aku memperhatikan jari-jarinya yang sesekali menekan-nekan udara. Tapi aku tidak mengatakan hal itu padanya.

Bocah lelaki yang memikat Alessandro Rolla itu juga bisa memainkan gitar, meski ia tak pernah menunjukkannya dalam konser-konsernya. Ia pernah bilang, “gitar adalah teman abadiku.” Karena itu ia hanya bercengkrama dengan gitarnya di saat-saat tertentu, dalam ruang tertutup, dan cuma disaksikan kawan-kawan dekatnya. Bocah itu mengenal gitar setelah pasukan Prancis menyerbu Italia, dan Genoa, kota kelahirannya terkena dampaknya.

Advertisements